#A week ago you said to me. "Do you believe I'll never be too far?"#
(seminggu yang lalu kamu bilang "yakin aku selalu di dekatmu)
Angin yang bertiup hari ini berbeda dari biasanya. Ia mengandung murka, kekesalan, dan air mata. Aku tahu hanya dengan merasakannya. Setiap hembusan mereka membuat rambut tubuhku bergidik, peka dengan hirauannya. Angga, kekasihku menyelimuti bahuku dengan kepalan tangannya yang lebar. Sesekali Ia menggesekkan kulit jemarinya terhadap kemeja flanel yang aku kenakan. Aku merasa nyaman, tak terganggu sentuhan itu.
"kamu pergi berapa lama?" aku bertanya dengan kalimat yang sama, ia hanya berdecak menanggapi.
"iya, iya.. aku udah nanya ini berkali - kali. Jawab lagi dong!" rajukku. ia bergeming, menggulung tangannya dan melipatnya di depan dadanya. Aku mengernyit, heran.
"cuma dua minggu. Aku juga pergi ke Alas Purwo, bukan ke benua lain" akhirnya Angga membuka mulutnya, menjawab pertanyaanku. Kali ini mungkin untuk terakhir kalinya.
"kamu yakin Banyuwangi itu nggak jauh?" Angga lagi-lagi hanya menganggukkan kepala dan melebarkan bibirnya. Meyakinkanku
Aku memantapkan dalam hati 'Angga tidak pergi sejauh itu'
#If you're lost, just look for me. You'll find me in the region of the summer stars#
(Ketika aku sedang gundah, aku hanya perlu menatapmu)
"Kamu kelihatan nggak? otakku ngebul sama paper taskku minggu ini?" Aku mengeluh pada layar gawai di depanku. Sambil membolak balikkan kertas pekerjaan yang harus selesai aku analisis malam ini. Di lain layar, ada Angga yang menampilkan langit hitam.
"Aku kayanya butuh healing deh Ngga" Aku menambahkan.
"lihat deh, Bintang musim panas di Kawah Ijen. Bagus banget kan?" Suaranya datar, namun aku bisa merasakan Angga mengagumi pemandangan di depannya. Aku menatap ponselku lama, berpikir akan menyahuti perasaannya seperti apa
"Ngga kelihatan Angga. Kamu harusnya ajak aku ke sana biar kita lihat bareng" Angga berdeham lama. Ia mungkin berpikir sama denganku. Ya! Angga memang harusnya mengajakku ke tempat-tempat yang disukainya kan?
"Lain kali ya, kita berdua" Angga memutuskan, aku tersenyum sumringah. Hanya dengan beberapa kata darinya aku sudah membayangkan banyak hal. Imajinasiku bermain secara liar, aku mendapatkan cuti dari bos, izin dari orang tua, membeli sepatu hiking, pole hiking juga sepertinya perlu deh.
Menit malam setelah itu aku selami dengan percakapan-percakapan ringan dengan Angga. Kami berdua menyukai dunia kami.
Aku dan Angga bukan insan yang menyukai hal yang sama. Angga dengan alam semesta dan aku dengan fantasi drama. Angga menyukai keheningan dan teh untuk hari liburnya. Ia akan tenggelam tanpa melakukan apapun selain duduk di atas sofa kesayangannya. Sedangkan aku menyukai Angga yang aku intip diantara buku-buku yang aku baca, di antara cangkir-cangkir kopi yang aku angkat, dan di sela-sela waktu yang kucuri saat menonton aktor berlaga.
#The fact that we can sit right here and say goodbye Means we've already won. A necessity for apologies between you and me. Baby, there is none#
(Perpisahan kita, tidak pernah terselip sebaitpun kata maaf)
"Ngga, kamu yakin?" aku berhenti sejenak, hanya beberapa detik
"kamu yakin kita udahan?" aku melanjutkan. Suara serak, mulut bergetar dan tangan terkepal.
Angga hanya diam, seperti yang biasa ia lakukan. Ia tak mengiyakan, pun menyanggah. Aku membencinya, sangat. Betapa besarnya hati Angga untuk bisa melihatku jatuh di depannya seperti ini. Aku ingin memaki dan memukul tubuhnya dengan sekuat tenaga. Namun tak bisa, setelah ucapan putusnya beberapa menit lalu aku tak bisa menggerakkan tanganku dan hanya menundukkan pandanganku.
Aku ingin tahu pikiran apa yang sedang berkecamuk di kepala Angga. Jika bisa, aku ingin menjadi partikel atau superhero yang bisa membaca batin Angga. Bagaimana bisa semudah itu? tanpa satupun alasan.
Aku tahu hubunganku dan Angga bukan seperti kekasih yang setiap hari mencurahkan cinta. Kami memberi perhatian dan kehangatan dengan cara yang berbeda. Kami memiliki jalan romansa yang sunyi namun menggelitik.
"Ngga! ini...." Aku menggantungkan kalimatku. Mengurungkan sumpah serapah yang hendak aku ucapkan. Aku kembali menunduk menatap kaki kursi yang didudukinya. Sepertinya Angga tidak layak lagi untuk diriku hari ini. Ia sudah memutuskan dan aku menerimanya, seperti biasa.
#We had some good times, didn't we? We had some good tricks up our sleeve#
(Kenangan kita begitu indah, kita menikmati setiap detiknya)
Aku memandang wajah Angga dengan sulit, mengingat tinggiku hanya sebatas bahu miliknya. Kami berdampingan, dihamparan savannah Kawah Wurung. Angga tersenyum lebar, aku mengikuti irama senyumnya. Kami berlari, pada jalan setapak lereng kawah tak berpenghuni itu. Angga memotret, aku berpose. Seperti kekasih yang sedang dimabuk asmara, Sore itu kami habiskan dengan bahagia.
"kamu mau cobain pentol?" Angga, sebagai pemandu perjalanan kencan kami hari ini membuat rencana-rencana untukku. Aku menganggukkan kepalaku. Tak pernah meragukan opsi yang ia tawarkan, karena aku tahu Angga sudah menimbangnya dengan matang.
"Ijen Geopark ini baru diresmikan jadi kawasan Geopark sama UNESCO tahun 2021 kemarin. Kawasannya luas banget, mulai sini sampe Banyuwangi, dari gunung sampe pantai" Aku tertawa mendengar penjelasannya.
"kamu serius banget jadi Tour Guide-nya" Angga hanya mengedikkan bahu. Menikmati pekerjaannya. Kami melanjutkan langkah kami menuruni tangga kawah ini, mengarah pada penjual pentol yang Angga maksud, satu-satunya di daerah ini.
Kami berdua sepakat untuk menaiki Kawah Wurung sekali lagi. Setelah mendapatankan dua bungkus pentol lima ribu dari bapak Adi -Nama penjual pentol di sana.
"Pertama kali lihat kamu baca buku, Aku udah jatuh hati loh sama kamu" Aku berdebar mendengar tuturan kata Angga yang sangat tiba-tiba. Hanya beberapa detik setelah aku duduk bersila.
"Aku inget, waktu itu kamu mengernyitkan dahimu sampai batas maksimal. Aku sampai penasaran, isi buku yang kamu baca. Mungkin kalo kamu lihat aku waktu itu, kamu pasti menganggapku orang mesum. Aku terus-terusan lihat perubahan ekspresi kamu setiap kamu membalikkan halaman buku. Aku pengen datengin kamu, minta nomer hp sama nama kamu" Angga bercerita panjang.
Melihat Angga berbicara adalah hal yang aku sukai. Intonasinya sangat ekspresif, berkebalikan dengan wajahnya yang datar. Angga hanya memanjangkan kalimat untuk hal yang ia gemari, ternyata aku juga salah satunya. hehehe
"Pertama kali aku ngajak kamu kencan, aku salting di depan kaca berkali kali, membayangkan kamu ada di hadapanku. Aku takut gagap dan membuatmu berfikir aku orang aneh. Aku berpikir berkali-kali apa yang harus aku lakukan agar tidak membuatmu tidak nyaman. Did I do it well?" Aku menganggukkan untuk membenarkan perkataannya.
Kencan pertama kami waktu itu sangat indah. Aku jatuh cinta pada Angga yang sudah mencintaiku. Angga memperkenalkan hal yang disukainya dengan hati-hati. Ia juga menanyakan kesukaanku dengan penuh semangat. Suasana kencan yang aku bayangkan selama ini. Angga banyak tersenyum canggung, Aku banyak tergelitik malu.
#Goodbyes are bittersweet. But it's not the end. I'll see your face again#
(Perpisahan kita pahit, aku ingin bertemu denganmu lagi, lagi, lagi, dan lagi)
Sepekan setelah aku dicampakkan, aku masih sering melihatnya di antara mata-mataku. Aromanya masih bisa aku baui. Yang paling penting, otakku masih memutar semua lagu-lagu dan hal yang aku suka tentangnya. Jariku secara imajinatif masih bisa merasakan ujung-ujung kemeja yang ia kenakan. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana secara sadar untuk alam bawah sadarku.
Sebulan setelah kejadian itu, kami sudah tak lagi berada di kota yang sama. Kami sama-sama menjauhkan diri baik secara sengaja, atau tidak. Pertanyaan dalam kepalaku tentang dirinya sudah aku coba jawab sendiri. Aku mengerti situasiku, namun sepertinya hatiku tidak. Perasaanku, dengan egoisnya meneguhkan bahwa aku masih mencintai Angga -hal yang bertentangan dengan logikaku.
Satu tahun setelah itu secara tidak sadar aku menggeluti hal yang menjadi kesukaanya. Pekerjaan dan karir impianku tiba-tiba tidak sama lagi. Aku mengejar hal yang Ia kejar dahulu. Diriku seperti memiliki perintah baru. Melupakan sekaligus melakoni aktivitas kesukaannya adalah hal paling abstrak untuk proses melupakan mantan. Aku tidak mencari tahu bagaimana kabar Angga, Iapun sepertinya demikian. Bahkan, mungkin lebih parah Ia tak pernah mengingatku
Bertahun tahun setelahnya, aku merasa aku seperti orang bodoh. Yang terus meneruh mengaitkan hidupku pada masa lalu. Memberi nutrisi pada imajinasiku yang semu. Aku membuang akal sehat dan logikaku jauh-jauh. Membangun istana asa yang mengharap kebahagiaan. Angga adalah nama tabu bagiku saat ini. Namun kata yang paling manjur untuk mengepakkan kupu-kupu di perutku. Aku tidak tahu kabar Angga meski aku sudah mencarinya. Aku ingin melihat wajahnya, sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, lagi, lagi dan lagi.
#And you will find me. Yeah, you will find me
In places that we've never been
For reasons we don't understand#
Walking in the wind
(hanya kamu yang bisa mempertemukan kita, ditempat, waktu dan alasan yang abstrak)
-aku berimajinasi
No comments:
Post a Comment