Wednesday, November 6, 2024

Spaces #ShortSongLit

 #Who's gonna be the first one to start the fight?#

"gak usah telpon aku abis ini" Emma membuka mulut dengan ketus, dilanjutkan dengan membanting pintu mobil usai keluar secara kasar. Aku hanya berdecak lidah dan menghela nafas perlahan. Pasrah

Aku melihat Emma dengan frustasi. Emma sangat ekspresif. Ia marah, tertawa, dan menangis dengan gamblang. Setiap kali melihat Emma, aku selalu menanti cerita dan ekspresi apa yang akan terpancar dari wajahnya. Emma akan berjingkat ketika mendapati nilai A pada papernya, atau menunduk tersedu karena masalah-masalah tertentu. Emma wanita sederhana yang memiliki hatiku. 

Ehm kembali lagi dengan kekesalan Emma hari ini, sepertinya aku harus membuka situs website untuk mencari tips meminta maaf kepada kekasih

-Kita jalan sekali lagi yuk, aku udah di depan nih-

aku menulis pesan, alih-alih menelpon untuk mematuhi larangan Emma. Entah berapa lama aku akan menunggu Emma sore ini, aku bersedia.

#Who's gonna be the first one to fall asleep at night?#

"Emm, aku tidur duluan ya. Boleh?" menatap ponsel yang menampilkan wajah Emma secara utuh. Aku harus membujuknya untuk membolehkanku istirahat malam ini. Emma selalu mengerjakan sesuatu secara terburu-buru, Ia pasti akan melewati jam tidurnya lagi.

"boleh Angga, tapi lima menit lagi ya" aku tak percaya. Kalimat lima menit lagi Emma itu sudah ia gunakan 20 menit yang lalu untuk membuatku terjaga. Aku menggelengkan kepalaku, tanda tak setuju. Bukannya aku tak mau menungguinya begadang, hanya saja besok aku harus berangkat pagi untuk pergi ke lombok.

"Kamu bikin teh gih, biar semangat" ucap Emma sambil tertawa kecil melihat mulutku menguap dan mataku menutup buka menahan kantuk. Suara tawa kecil Emma begitu renyah seperti ranting pohon yang patah karena kupijak. Aku mengikuti saran Emma, menyeduh Earl Grey Tea untuk menemani Tuan Putri-ku.

"menurutmu, gimana kalau aku pake pendekatan yang lain? Aku agak kerempongan sih sama data yang gak utuh kaya gini" Dua jam setelah teh yang aku seduh habis, mataku memberat kembali. Emma mulai membuka pembicaraan tidak asing ini. Taktik ampuh miliknya untuk mengecohku dari rasa kantuk. Ia sudah mulai mengajakku membahas masalah kantornya yang aku tak paham, sama sekali.

"Aku ngga paham ya!" Aku menegaskan kalimatku dengan tak bertenaga. Emma membalas dengan tawanya sekali lagi, menyemangatiku untuk tetap siaga.

Setelah beberapa menit aku lalui dengan berat dan lelah, aku bisa melihat Emma tenggelam dalam bantal tidurnya. Ia sudah tak lagi membuat percakapan. Aku melihat wajah Emma sekaali lagi dalam gelap, ia sungguh damai.

Aku selalu suka memandang Emma. Aku akan termenung lama pada kaca jendela yang memantulkan wajah Emma. Emma yang sedang membaca buku, menikmati secangkir kopi atau saat ia menonton film. Aku menyukai semuanya.

#Who's gonna be the last one to drive away? Who's gonna be the last one to forget this place?#

"Em, kayanya aku udah ga bisa bareng kamu lagi"

Aku sangat menyayangkan mengajak Emma putus ke tempat pertama kali kita kencan. Ia terlihat tidak baik-baik saja. Emma menunduk dan menahan tangis dari setiap kata-katanya

"kamu yakin Ngga? kita udahan?" Ia mengulang-ngulang kalimat yang sama. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Memanjangkan alasan aku memutuskan Emma akan membuat Emma semakin sedih, dan aku tidak menyukai itu.

Seperti Emma yang diam, akupun kemudian lebih banyak terpatung dihadapannya. Berkali-kali aku melihat Emma hendak mengangkat tangannya, namun ia urungkan.

Aku tidak pernah membayangkan skenario ini. Mengajak Emma putus tanpa alasan adalah tindakan absurd dan murni untuk keegoisanku semata. Ini harusnya membuat Emma marah dan mengamuk, bukan menunduk tak berdaya. Sorot mata Emma tidak memancarkan jiwa apapun saat ini, dan aku menyesali alasannya.

Aku menimbang untuk menarik ucapanku beberapa saat yang lalu. Namun setiap kali aku hendak membuka mulut, Emma bergerak seperti akan merespon sesuatu. Berkali-kali hal itu terjadi, hingga Emma pulang. Aku melihat ia pergi

#Oh spaces between us, Keep getting deeper#

Setelah memutuskan hubungan dengan Emma aku merasa hari-hariku kelabu seperti tiga tahun lalu. Beberapa waktu kadang mata kami bertatapan, hanya sepersekian detik sebelum aku memalingkan muka. Melihat Emma berada di depanku, membuatku ingin memeluknya, menjadikannya milikku kembali.

Setiap kali melihat warna Emma aku cemburu, karena itu aku memutuskan untuk memberi jarak pada eksistensi kami. Mulai dari menutup sosial media dan pergi dari kota di mana Emma berada. Aku memutus semua koneksi kami untuk memberi jarak sebesar-besarnya. Mendaki gunung, berselancar, dan berdiam diri memandangi bintang musim panas sudah tidak pernah aku lakukan lagi. Aku menjauhkan bayanganku tentang Emma yang menyukaiku ketika aku melakukannya.

Lambat laun, Emma mulai menghilang dari pandanganku, jangkauanku, dan genggamanku. Namun namanya sungguh masih membentang di jantung hatiku. Aku selalu berimajinasi berada pada hening yang kita ciptakan bersama dan jatuh pada jurang jarak yang aku buat dengan sadar.

#It's harder to reach you, even though I try#

-Angga, kamu apa kabar? aku kangen banget sama kamu. Aku pengen ketemu kamu lagi, kenal dirimu yang baru. Aku merindukanmu-

Aku terpelonjak. Pesan teks dari nomer asing yang aku hapal, milik Emma. Pukul dua dini hari, pesan itu masuk mengusik ketenangan ponselku dan fikiranku. Jujur, sebuah pesan dari Emma membuatku rindu pada kehidupanku ketika aku bersamanya, bahkan meski sudah bertahun-tahun aku menjalani kehidupan baru yang ribut ini. Namun aku tidak boleh egois. Semua hal yang sudah lalu ini tidak boleh terjadi kembali, aku takut menyakiti Emma tuk kedua kalinya.

-hallo Emma, aku baik-baik aja.. Thank's to you. Terimakasih sudah jujur dengan perasaanmu. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Maafkan aku karena aku harus menyeretmu dalam situasi seperti ini-

aku mengirim balasan kepada Emma setelah adzan subuh berkumandang. Ia seharusnya sudah terbangun meski baru terlelap di perempat malam. Setelah pesan itu terkirim pada Emma, aku tidak bisa tidur. Aku memandang lama pada langit yang memenuhi jendela kamarku. Bintang musim panas malam ini sangat ingin aku tunjukkan kepada Emma.

Aku menanti balasan Emma. 

Lima jam... 

Delapan... 

Dua belas... 

Satu hari... 

Dua minggu...

Aku tak kunjung mendapat jawaban.

#Spaces between us, hold all our secrets. Leaving us speechless and i don't know why#

Jarak antara aku dan Emma sudah jauh. Pesan balasan untuk Emma dariku beberapa bulan yang lalu semakin memperburuk jarak kami berdua. Meskipun, beberapa kali kita berada dalam satu kota yang sama, mata kami tidak pernah sekalipun berpapasan. Semesta seakan mencomoohku

Pernah, pada suatu pagi aku tak sengaja melihat Emma, terhalang pagar halaman rumah milikku. Emma terlihat bersepeda dengan santai. Tawanya sangat familiar melintasi gendang telingaku. Aku bergegas pergi membuka pagar melihat rambut Emma bertebaran. Bukannya menyapa Emma, aku malah terpana, untuk yang kesekian kalinya.

Who's gonna be the first to say goodbye?

aku Angga, yang telah mencampakkan Emma tanpa alasan. Kami tidak sempat berpamitan pada pertemuan terakhir kami sebagai pasangan. Aku meninggalkannya, sendirian. Untuk memuaskan egoku bahwa aku tidak boleh selalu terbiasa dengan Emma, waktu itu.

Emma, terimakasih dan selamat tinggal


Thursday, September 19, 2024

Walking in the Wind #ShortSongLit

#A week ago you said to me. "Do you believe I'll never be too far?"#

(seminggu yang lalu kamu bilang "yakin aku selalu di dekatmu)

Angin yang bertiup hari ini berbeda dari biasanya. Ia mengandung murka, kekesalan, dan air mata. Aku tahu hanya dengan merasakannya. Setiap hembusan mereka membuat rambut tubuhku bergidik, peka dengan hirauannya. Angga, kekasihku menyelimuti bahuku dengan kepalan tangannya yang lebar. Sesekali Ia menggesekkan kulit jemarinya terhadap kemeja flanel yang aku kenakan. Aku merasa nyaman, tak terganggu sentuhan itu.

"kamu pergi berapa lama?" aku bertanya dengan kalimat yang sama, ia hanya berdecak menanggapi.

"iya, iya.. aku udah nanya ini berkali - kali. Jawab lagi dong!" rajukku. ia bergeming, menggulung tangannya dan melipatnya di depan dadanya. Aku mengernyit, heran.

"cuma dua minggu. Aku juga pergi ke Alas Purwo, bukan ke benua lain" akhirnya Angga membuka mulutnya, menjawab pertanyaanku. Kali ini mungkin untuk terakhir kalinya.

"kamu yakin Banyuwangi itu nggak jauh?" Angga lagi-lagi hanya menganggukkan kepala dan melebarkan bibirnya. Meyakinkanku

Aku memantapkan dalam hati 'Angga tidak pergi sejauh itu'

#If you're lost, just look for me. You'll find me in the region of the summer stars#

(Ketika aku sedang gundah, aku hanya perlu menatapmu)

"Kamu kelihatan nggak? otakku ngebul sama paper taskku minggu ini?" Aku mengeluh pada layar gawai di depanku. Sambil membolak balikkan kertas pekerjaan yang harus selesai aku analisis malam ini. Di lain layar, ada Angga yang menampilkan langit hitam.

"Aku kayanya butuh healing deh Ngga" Aku menambahkan.

"lihat deh, Bintang musim panas di Kawah Ijen. Bagus banget kan?" Suaranya datar, namun aku bisa merasakan Angga mengagumi pemandangan di depannya. Aku menatap ponselku lama, berpikir akan menyahuti perasaannya seperti apa

"Ngga kelihatan Angga. Kamu harusnya ajak aku ke sana biar kita lihat bareng" Angga berdeham lama. Ia mungkin berpikir sama denganku. Ya! Angga memang harusnya mengajakku ke tempat-tempat yang disukainya kan? 

"Lain kali ya, kita berdua" Angga memutuskan, aku tersenyum sumringah. Hanya dengan beberapa kata darinya aku sudah membayangkan banyak hal. Imajinasiku bermain secara liar, aku mendapatkan cuti dari bos, izin dari orang tua, membeli sepatu hiking, pole hiking juga sepertinya perlu deh.

Menit malam setelah itu aku selami dengan percakapan-percakapan ringan dengan Angga. Kami berdua menyukai dunia kami.

Aku dan Angga bukan insan yang menyukai hal yang sama. Angga dengan alam semesta dan aku dengan fantasi drama. Angga menyukai keheningan dan teh untuk hari liburnya. Ia akan tenggelam tanpa melakukan apapun selain duduk di atas sofa kesayangannya. Sedangkan aku menyukai Angga yang aku intip diantara buku-buku yang aku baca, di antara cangkir-cangkir kopi yang aku angkat, dan di sela-sela waktu yang kucuri saat menonton aktor berlaga.

Seperti mentari yang menembus lantai Hutan, Aku dan Angga menikmati kehangatan di dalam hening yang kami ciptakan.

#The fact that we can sit right here and say goodbye Means we've already won. A necessity for apologies between you and me. Baby, there is none#

(Perpisahan kita, tidak pernah terselip sebaitpun kata maaf)

"Ngga, kamu yakin?" aku berhenti sejenak, hanya beberapa detik

"kamu yakin kita udahan?" aku melanjutkan. Suara serak, mulut bergetar dan tangan terkepal.

Angga hanya diam, seperti yang biasa ia lakukan. Ia tak mengiyakan, pun menyanggah. Aku membencinya, sangat. Betapa besarnya hati Angga untuk bisa melihatku jatuh di depannya seperti ini. Aku ingin memaki dan memukul tubuhnya dengan sekuat tenaga. Namun tak bisa, setelah ucapan putusnya beberapa menit lalu aku tak bisa menggerakkan tanganku dan hanya menundukkan pandanganku.

Aku ingin tahu pikiran apa yang sedang berkecamuk di kepala Angga. Jika bisa, aku ingin menjadi partikel atau superhero yang bisa membaca batin Angga. Bagaimana bisa semudah itu? tanpa satupun alasan. 

Aku tahu hubunganku dan Angga bukan seperti kekasih yang setiap hari mencurahkan cinta. Kami memberi perhatian dan kehangatan dengan cara yang berbeda. Kami memiliki jalan romansa yang sunyi namun menggelitik.

"Ngga! ini...." Aku menggantungkan kalimatku. Mengurungkan sumpah serapah yang hendak aku ucapkan. Aku kembali menunduk menatap kaki kursi yang didudukinya. Sepertinya Angga tidak layak lagi untuk diriku hari ini. Ia sudah memutuskan dan aku menerimanya, seperti biasa.

#We had some good times, didn't we? We had some good tricks up our sleeve#

(Kenangan kita begitu indah, kita menikmati setiap detiknya)

Aku memandang wajah Angga dengan sulit, mengingat tinggiku hanya sebatas bahu miliknya. Kami berdampingan, dihamparan savannah Kawah Wurung. Angga tersenyum lebar, aku mengikuti irama senyumnya. Kami berlari, pada jalan setapak lereng kawah tak berpenghuni itu. Angga memotret, aku berpose. Seperti kekasih yang sedang dimabuk asmara, Sore itu kami habiskan dengan bahagia.

"kamu mau cobain pentol?" Angga, sebagai pemandu perjalanan kencan kami hari ini membuat rencana-rencana untukku. Aku menganggukkan kepalaku. Tak pernah meragukan opsi yang ia tawarkan, karena aku tahu Angga sudah menimbangnya dengan matang.

"Ijen Geopark ini baru diresmikan jadi kawasan Geopark sama UNESCO tahun 2021 kemarin. Kawasannya luas banget, mulai sini sampe Banyuwangi, dari gunung sampe pantai" Aku tertawa mendengar penjelasannya. 

"kamu serius banget jadi Tour Guide-nya" Angga hanya mengedikkan bahu. Menikmati pekerjaannya. Kami melanjutkan langkah kami menuruni tangga kawah ini, mengarah pada penjual pentol yang Angga maksud, satu-satunya di daerah ini.

Kami berdua sepakat untuk menaiki Kawah Wurung sekali lagi. Setelah mendapatankan dua bungkus pentol lima ribu dari bapak Adi -Nama penjual pentol di sana.

"Pertama kali lihat kamu baca buku, Aku udah jatuh hati loh sama kamu" Aku berdebar mendengar tuturan kata Angga yang sangat tiba-tiba. Hanya beberapa detik setelah aku duduk bersila.

"Aku inget, waktu itu kamu mengernyitkan dahimu sampai batas maksimal. Aku sampai penasaran, isi buku yang kamu baca. Mungkin kalo kamu lihat aku waktu itu, kamu pasti menganggapku orang mesum. Aku terus-terusan lihat perubahan ekspresi kamu setiap kamu membalikkan halaman buku. Aku pengen datengin kamu, minta nomer hp sama nama kamu" Angga bercerita panjang. 

Melihat Angga berbicara adalah hal yang aku sukai. Intonasinya sangat ekspresif, berkebalikan dengan wajahnya yang datar. Angga hanya memanjangkan kalimat untuk hal yang ia gemari, ternyata aku juga salah satunya. hehehe

"Pertama kali aku ngajak kamu kencan, aku salting di depan kaca berkali kali, membayangkan kamu ada di hadapanku. Aku takut gagap dan membuatmu berfikir aku orang aneh. Aku berpikir berkali-kali apa yang harus aku lakukan agar tidak membuatmu tidak nyaman. Did I do it well?" Aku menganggukkan untuk membenarkan perkataannya.

Kencan pertama kami waktu itu sangat indah. Aku jatuh cinta pada Angga yang sudah mencintaiku. Angga memperkenalkan hal yang disukainya dengan hati-hati. Ia juga menanyakan kesukaanku dengan penuh semangat. Suasana kencan yang aku bayangkan selama ini. Angga banyak tersenyum canggung, Aku banyak tergelitik malu.

#Goodbyes are bittersweet. But it's not the end. I'll see your face again#

(Perpisahan kita pahit, aku ingin bertemu denganmu lagi, lagi, lagi, dan lagi)

Sepekan setelah aku dicampakkan, aku masih sering melihatnya di antara mata-mataku. Aromanya masih bisa aku baui. Yang paling penting, otakku masih memutar semua lagu-lagu dan hal yang aku suka tentangnya. Jariku secara imajinatif masih bisa merasakan ujung-ujung kemeja yang ia kenakan. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana secara sadar untuk alam bawah sadarku.

Sebulan setelah kejadian itu, kami sudah tak lagi berada di kota yang sama. Kami sama-sama menjauhkan diri baik secara sengaja, atau tidak. Pertanyaan dalam kepalaku tentang dirinya sudah aku coba jawab sendiri. Aku mengerti situasiku, namun sepertinya hatiku tidak. Perasaanku, dengan egoisnya meneguhkan bahwa aku masih mencintai Angga -hal yang bertentangan dengan logikaku.

Satu tahun setelah itu secara tidak sadar aku menggeluti hal yang menjadi kesukaanya. Pekerjaan dan karir impianku tiba-tiba tidak sama lagi. Aku mengejar hal yang Ia kejar dahulu. Diriku seperti memiliki perintah baru. Melupakan sekaligus melakoni aktivitas kesukaannya adalah hal paling abstrak untuk proses melupakan mantan. Aku tidak mencari tahu bagaimana kabar Angga, Iapun sepertinya demikian. Bahkan, mungkin lebih parah Ia tak pernah mengingatku

Bertahun tahun setelahnya, aku merasa aku seperti orang bodoh. Yang terus meneruh mengaitkan hidupku pada masa lalu. Memberi nutrisi pada imajinasiku yang semu. Aku membuang akal sehat dan logikaku jauh-jauh. Membangun istana asa yang mengharap kebahagiaan. Angga adalah nama tabu bagiku saat ini. Namun kata yang paling manjur untuk mengepakkan kupu-kupu di perutku. Aku tidak tahu kabar Angga meski aku sudah mencarinya. Aku ingin melihat wajahnya, sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, lagi, lagi dan lagi. 

#And you will find me. Yeah, you will find me

In places that we've never been

For reasons we don't understand#

Walking in the wind

(hanya kamu yang bisa mempertemukan kita, ditempat, waktu dan alasan yang abstrak)

-aku berimajinasi