Wednesday, November 6, 2024

Spaces #ShortSongLit

 #Who's gonna be the first one to start the fight?#

"gak usah telpon aku abis ini" Emma membuka mulut dengan ketus, dilanjutkan dengan membanting pintu mobil usai keluar secara kasar. Aku hanya berdecak lidah dan menghela nafas perlahan. Pasrah

Aku melihat Emma dengan frustasi. Emma sangat ekspresif. Ia marah, tertawa, dan menangis dengan gamblang. Setiap kali melihat Emma, aku selalu menanti cerita dan ekspresi apa yang akan terpancar dari wajahnya. Emma akan berjingkat ketika mendapati nilai A pada papernya, atau menunduk tersedu karena masalah-masalah tertentu. Emma wanita sederhana yang memiliki hatiku. 

Ehm kembali lagi dengan kekesalan Emma hari ini, sepertinya aku harus membuka situs website untuk mencari tips meminta maaf kepada kekasih

-Kita jalan sekali lagi yuk, aku udah di depan nih-

aku menulis pesan, alih-alih menelpon untuk mematuhi larangan Emma. Entah berapa lama aku akan menunggu Emma sore ini, aku bersedia.

#Who's gonna be the first one to fall asleep at night?#

"Emm, aku tidur duluan ya. Boleh?" menatap ponsel yang menampilkan wajah Emma secara utuh. Aku harus membujuknya untuk membolehkanku istirahat malam ini. Emma selalu mengerjakan sesuatu secara terburu-buru, Ia pasti akan melewati jam tidurnya lagi.

"boleh Angga, tapi lima menit lagi ya" aku tak percaya. Kalimat lima menit lagi Emma itu sudah ia gunakan 20 menit yang lalu untuk membuatku terjaga. Aku menggelengkan kepalaku, tanda tak setuju. Bukannya aku tak mau menungguinya begadang, hanya saja besok aku harus berangkat pagi untuk pergi ke lombok.

"Kamu bikin teh gih, biar semangat" ucap Emma sambil tertawa kecil melihat mulutku menguap dan mataku menutup buka menahan kantuk. Suara tawa kecil Emma begitu renyah seperti ranting pohon yang patah karena kupijak. Aku mengikuti saran Emma, menyeduh Earl Grey Tea untuk menemani Tuan Putri-ku.

"menurutmu, gimana kalau aku pake pendekatan yang lain? Aku agak kerempongan sih sama data yang gak utuh kaya gini" Dua jam setelah teh yang aku seduh habis, mataku memberat kembali. Emma mulai membuka pembicaraan tidak asing ini. Taktik ampuh miliknya untuk mengecohku dari rasa kantuk. Ia sudah mulai mengajakku membahas masalah kantornya yang aku tak paham, sama sekali.

"Aku ngga paham ya!" Aku menegaskan kalimatku dengan tak bertenaga. Emma membalas dengan tawanya sekali lagi, menyemangatiku untuk tetap siaga.

Setelah beberapa menit aku lalui dengan berat dan lelah, aku bisa melihat Emma tenggelam dalam bantal tidurnya. Ia sudah tak lagi membuat percakapan. Aku melihat wajah Emma sekaali lagi dalam gelap, ia sungguh damai.

Aku selalu suka memandang Emma. Aku akan termenung lama pada kaca jendela yang memantulkan wajah Emma. Emma yang sedang membaca buku, menikmati secangkir kopi atau saat ia menonton film. Aku menyukai semuanya.

#Who's gonna be the last one to drive away? Who's gonna be the last one to forget this place?#

"Em, kayanya aku udah ga bisa bareng kamu lagi"

Aku sangat menyayangkan mengajak Emma putus ke tempat pertama kali kita kencan. Ia terlihat tidak baik-baik saja. Emma menunduk dan menahan tangis dari setiap kata-katanya

"kamu yakin Ngga? kita udahan?" Ia mengulang-ngulang kalimat yang sama. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Memanjangkan alasan aku memutuskan Emma akan membuat Emma semakin sedih, dan aku tidak menyukai itu.

Seperti Emma yang diam, akupun kemudian lebih banyak terpatung dihadapannya. Berkali-kali aku melihat Emma hendak mengangkat tangannya, namun ia urungkan.

Aku tidak pernah membayangkan skenario ini. Mengajak Emma putus tanpa alasan adalah tindakan absurd dan murni untuk keegoisanku semata. Ini harusnya membuat Emma marah dan mengamuk, bukan menunduk tak berdaya. Sorot mata Emma tidak memancarkan jiwa apapun saat ini, dan aku menyesali alasannya.

Aku menimbang untuk menarik ucapanku beberapa saat yang lalu. Namun setiap kali aku hendak membuka mulut, Emma bergerak seperti akan merespon sesuatu. Berkali-kali hal itu terjadi, hingga Emma pulang. Aku melihat ia pergi

#Oh spaces between us, Keep getting deeper#

Setelah memutuskan hubungan dengan Emma aku merasa hari-hariku kelabu seperti tiga tahun lalu. Beberapa waktu kadang mata kami bertatapan, hanya sepersekian detik sebelum aku memalingkan muka. Melihat Emma berada di depanku, membuatku ingin memeluknya, menjadikannya milikku kembali.

Setiap kali melihat warna Emma aku cemburu, karena itu aku memutuskan untuk memberi jarak pada eksistensi kami. Mulai dari menutup sosial media dan pergi dari kota di mana Emma berada. Aku memutus semua koneksi kami untuk memberi jarak sebesar-besarnya. Mendaki gunung, berselancar, dan berdiam diri memandangi bintang musim panas sudah tidak pernah aku lakukan lagi. Aku menjauhkan bayanganku tentang Emma yang menyukaiku ketika aku melakukannya.

Lambat laun, Emma mulai menghilang dari pandanganku, jangkauanku, dan genggamanku. Namun namanya sungguh masih membentang di jantung hatiku. Aku selalu berimajinasi berada pada hening yang kita ciptakan bersama dan jatuh pada jurang jarak yang aku buat dengan sadar.

#It's harder to reach you, even though I try#

-Angga, kamu apa kabar? aku kangen banget sama kamu. Aku pengen ketemu kamu lagi, kenal dirimu yang baru. Aku merindukanmu-

Aku terpelonjak. Pesan teks dari nomer asing yang aku hapal, milik Emma. Pukul dua dini hari, pesan itu masuk mengusik ketenangan ponselku dan fikiranku. Jujur, sebuah pesan dari Emma membuatku rindu pada kehidupanku ketika aku bersamanya, bahkan meski sudah bertahun-tahun aku menjalani kehidupan baru yang ribut ini. Namun aku tidak boleh egois. Semua hal yang sudah lalu ini tidak boleh terjadi kembali, aku takut menyakiti Emma tuk kedua kalinya.

-hallo Emma, aku baik-baik aja.. Thank's to you. Terimakasih sudah jujur dengan perasaanmu. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Maafkan aku karena aku harus menyeretmu dalam situasi seperti ini-

aku mengirim balasan kepada Emma setelah adzan subuh berkumandang. Ia seharusnya sudah terbangun meski baru terlelap di perempat malam. Setelah pesan itu terkirim pada Emma, aku tidak bisa tidur. Aku memandang lama pada langit yang memenuhi jendela kamarku. Bintang musim panas malam ini sangat ingin aku tunjukkan kepada Emma.

Aku menanti balasan Emma. 

Lima jam... 

Delapan... 

Dua belas... 

Satu hari... 

Dua minggu...

Aku tak kunjung mendapat jawaban.

#Spaces between us, hold all our secrets. Leaving us speechless and i don't know why#

Jarak antara aku dan Emma sudah jauh. Pesan balasan untuk Emma dariku beberapa bulan yang lalu semakin memperburuk jarak kami berdua. Meskipun, beberapa kali kita berada dalam satu kota yang sama, mata kami tidak pernah sekalipun berpapasan. Semesta seakan mencomoohku

Pernah, pada suatu pagi aku tak sengaja melihat Emma, terhalang pagar halaman rumah milikku. Emma terlihat bersepeda dengan santai. Tawanya sangat familiar melintasi gendang telingaku. Aku bergegas pergi membuka pagar melihat rambut Emma bertebaran. Bukannya menyapa Emma, aku malah terpana, untuk yang kesekian kalinya.

Who's gonna be the first to say goodbye?

aku Angga, yang telah mencampakkan Emma tanpa alasan. Kami tidak sempat berpamitan pada pertemuan terakhir kami sebagai pasangan. Aku meninggalkannya, sendirian. Untuk memuaskan egoku bahwa aku tidak boleh selalu terbiasa dengan Emma, waktu itu.

Emma, terimakasih dan selamat tinggal


Thursday, September 19, 2024

Walking in the Wind #ShortSongLit

#A week ago you said to me. "Do you believe I'll never be too far?"#

(seminggu yang lalu kamu bilang "yakin aku selalu di dekatmu)

Angin yang bertiup hari ini berbeda dari biasanya. Ia mengandung murka, kekesalan, dan air mata. Aku tahu hanya dengan merasakannya. Setiap hembusan mereka membuat rambut tubuhku bergidik, peka dengan hirauannya. Angga, kekasihku menyelimuti bahuku dengan kepalan tangannya yang lebar. Sesekali Ia menggesekkan kulit jemarinya terhadap kemeja flanel yang aku kenakan. Aku merasa nyaman, tak terganggu sentuhan itu.

"kamu pergi berapa lama?" aku bertanya dengan kalimat yang sama, ia hanya berdecak menanggapi.

"iya, iya.. aku udah nanya ini berkali - kali. Jawab lagi dong!" rajukku. ia bergeming, menggulung tangannya dan melipatnya di depan dadanya. Aku mengernyit, heran.

"cuma dua minggu. Aku juga pergi ke Alas Purwo, bukan ke benua lain" akhirnya Angga membuka mulutnya, menjawab pertanyaanku. Kali ini mungkin untuk terakhir kalinya.

"kamu yakin Banyuwangi itu nggak jauh?" Angga lagi-lagi hanya menganggukkan kepala dan melebarkan bibirnya. Meyakinkanku

Aku memantapkan dalam hati 'Angga tidak pergi sejauh itu'

#If you're lost, just look for me. You'll find me in the region of the summer stars#

(Ketika aku sedang gundah, aku hanya perlu menatapmu)

"Kamu kelihatan nggak? otakku ngebul sama paper taskku minggu ini?" Aku mengeluh pada layar gawai di depanku. Sambil membolak balikkan kertas pekerjaan yang harus selesai aku analisis malam ini. Di lain layar, ada Angga yang menampilkan langit hitam.

"Aku kayanya butuh healing deh Ngga" Aku menambahkan.

"lihat deh, Bintang musim panas di Kawah Ijen. Bagus banget kan?" Suaranya datar, namun aku bisa merasakan Angga mengagumi pemandangan di depannya. Aku menatap ponselku lama, berpikir akan menyahuti perasaannya seperti apa

"Ngga kelihatan Angga. Kamu harusnya ajak aku ke sana biar kita lihat bareng" Angga berdeham lama. Ia mungkin berpikir sama denganku. Ya! Angga memang harusnya mengajakku ke tempat-tempat yang disukainya kan? 

"Lain kali ya, kita berdua" Angga memutuskan, aku tersenyum sumringah. Hanya dengan beberapa kata darinya aku sudah membayangkan banyak hal. Imajinasiku bermain secara liar, aku mendapatkan cuti dari bos, izin dari orang tua, membeli sepatu hiking, pole hiking juga sepertinya perlu deh.

Menit malam setelah itu aku selami dengan percakapan-percakapan ringan dengan Angga. Kami berdua menyukai dunia kami.

Aku dan Angga bukan insan yang menyukai hal yang sama. Angga dengan alam semesta dan aku dengan fantasi drama. Angga menyukai keheningan dan teh untuk hari liburnya. Ia akan tenggelam tanpa melakukan apapun selain duduk di atas sofa kesayangannya. Sedangkan aku menyukai Angga yang aku intip diantara buku-buku yang aku baca, di antara cangkir-cangkir kopi yang aku angkat, dan di sela-sela waktu yang kucuri saat menonton aktor berlaga.

Seperti mentari yang menembus lantai Hutan, Aku dan Angga menikmati kehangatan di dalam hening yang kami ciptakan.

#The fact that we can sit right here and say goodbye Means we've already won. A necessity for apologies between you and me. Baby, there is none#

(Perpisahan kita, tidak pernah terselip sebaitpun kata maaf)

"Ngga, kamu yakin?" aku berhenti sejenak, hanya beberapa detik

"kamu yakin kita udahan?" aku melanjutkan. Suara serak, mulut bergetar dan tangan terkepal.

Angga hanya diam, seperti yang biasa ia lakukan. Ia tak mengiyakan, pun menyanggah. Aku membencinya, sangat. Betapa besarnya hati Angga untuk bisa melihatku jatuh di depannya seperti ini. Aku ingin memaki dan memukul tubuhnya dengan sekuat tenaga. Namun tak bisa, setelah ucapan putusnya beberapa menit lalu aku tak bisa menggerakkan tanganku dan hanya menundukkan pandanganku.

Aku ingin tahu pikiran apa yang sedang berkecamuk di kepala Angga. Jika bisa, aku ingin menjadi partikel atau superhero yang bisa membaca batin Angga. Bagaimana bisa semudah itu? tanpa satupun alasan. 

Aku tahu hubunganku dan Angga bukan seperti kekasih yang setiap hari mencurahkan cinta. Kami memberi perhatian dan kehangatan dengan cara yang berbeda. Kami memiliki jalan romansa yang sunyi namun menggelitik.

"Ngga! ini...." Aku menggantungkan kalimatku. Mengurungkan sumpah serapah yang hendak aku ucapkan. Aku kembali menunduk menatap kaki kursi yang didudukinya. Sepertinya Angga tidak layak lagi untuk diriku hari ini. Ia sudah memutuskan dan aku menerimanya, seperti biasa.

#We had some good times, didn't we? We had some good tricks up our sleeve#

(Kenangan kita begitu indah, kita menikmati setiap detiknya)

Aku memandang wajah Angga dengan sulit, mengingat tinggiku hanya sebatas bahu miliknya. Kami berdampingan, dihamparan savannah Kawah Wurung. Angga tersenyum lebar, aku mengikuti irama senyumnya. Kami berlari, pada jalan setapak lereng kawah tak berpenghuni itu. Angga memotret, aku berpose. Seperti kekasih yang sedang dimabuk asmara, Sore itu kami habiskan dengan bahagia.

"kamu mau cobain pentol?" Angga, sebagai pemandu perjalanan kencan kami hari ini membuat rencana-rencana untukku. Aku menganggukkan kepalaku. Tak pernah meragukan opsi yang ia tawarkan, karena aku tahu Angga sudah menimbangnya dengan matang.

"Ijen Geopark ini baru diresmikan jadi kawasan Geopark sama UNESCO tahun 2021 kemarin. Kawasannya luas banget, mulai sini sampe Banyuwangi, dari gunung sampe pantai" Aku tertawa mendengar penjelasannya. 

"kamu serius banget jadi Tour Guide-nya" Angga hanya mengedikkan bahu. Menikmati pekerjaannya. Kami melanjutkan langkah kami menuruni tangga kawah ini, mengarah pada penjual pentol yang Angga maksud, satu-satunya di daerah ini.

Kami berdua sepakat untuk menaiki Kawah Wurung sekali lagi. Setelah mendapatankan dua bungkus pentol lima ribu dari bapak Adi -Nama penjual pentol di sana.

"Pertama kali lihat kamu baca buku, Aku udah jatuh hati loh sama kamu" Aku berdebar mendengar tuturan kata Angga yang sangat tiba-tiba. Hanya beberapa detik setelah aku duduk bersila.

"Aku inget, waktu itu kamu mengernyitkan dahimu sampai batas maksimal. Aku sampai penasaran, isi buku yang kamu baca. Mungkin kalo kamu lihat aku waktu itu, kamu pasti menganggapku orang mesum. Aku terus-terusan lihat perubahan ekspresi kamu setiap kamu membalikkan halaman buku. Aku pengen datengin kamu, minta nomer hp sama nama kamu" Angga bercerita panjang. 

Melihat Angga berbicara adalah hal yang aku sukai. Intonasinya sangat ekspresif, berkebalikan dengan wajahnya yang datar. Angga hanya memanjangkan kalimat untuk hal yang ia gemari, ternyata aku juga salah satunya. hehehe

"Pertama kali aku ngajak kamu kencan, aku salting di depan kaca berkali kali, membayangkan kamu ada di hadapanku. Aku takut gagap dan membuatmu berfikir aku orang aneh. Aku berpikir berkali-kali apa yang harus aku lakukan agar tidak membuatmu tidak nyaman. Did I do it well?" Aku menganggukkan untuk membenarkan perkataannya.

Kencan pertama kami waktu itu sangat indah. Aku jatuh cinta pada Angga yang sudah mencintaiku. Angga memperkenalkan hal yang disukainya dengan hati-hati. Ia juga menanyakan kesukaanku dengan penuh semangat. Suasana kencan yang aku bayangkan selama ini. Angga banyak tersenyum canggung, Aku banyak tergelitik malu.

#Goodbyes are bittersweet. But it's not the end. I'll see your face again#

(Perpisahan kita pahit, aku ingin bertemu denganmu lagi, lagi, lagi, dan lagi)

Sepekan setelah aku dicampakkan, aku masih sering melihatnya di antara mata-mataku. Aromanya masih bisa aku baui. Yang paling penting, otakku masih memutar semua lagu-lagu dan hal yang aku suka tentangnya. Jariku secara imajinatif masih bisa merasakan ujung-ujung kemeja yang ia kenakan. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana secara sadar untuk alam bawah sadarku.

Sebulan setelah kejadian itu, kami sudah tak lagi berada di kota yang sama. Kami sama-sama menjauhkan diri baik secara sengaja, atau tidak. Pertanyaan dalam kepalaku tentang dirinya sudah aku coba jawab sendiri. Aku mengerti situasiku, namun sepertinya hatiku tidak. Perasaanku, dengan egoisnya meneguhkan bahwa aku masih mencintai Angga -hal yang bertentangan dengan logikaku.

Satu tahun setelah itu secara tidak sadar aku menggeluti hal yang menjadi kesukaanya. Pekerjaan dan karir impianku tiba-tiba tidak sama lagi. Aku mengejar hal yang Ia kejar dahulu. Diriku seperti memiliki perintah baru. Melupakan sekaligus melakoni aktivitas kesukaannya adalah hal paling abstrak untuk proses melupakan mantan. Aku tidak mencari tahu bagaimana kabar Angga, Iapun sepertinya demikian. Bahkan, mungkin lebih parah Ia tak pernah mengingatku

Bertahun tahun setelahnya, aku merasa aku seperti orang bodoh. Yang terus meneruh mengaitkan hidupku pada masa lalu. Memberi nutrisi pada imajinasiku yang semu. Aku membuang akal sehat dan logikaku jauh-jauh. Membangun istana asa yang mengharap kebahagiaan. Angga adalah nama tabu bagiku saat ini. Namun kata yang paling manjur untuk mengepakkan kupu-kupu di perutku. Aku tidak tahu kabar Angga meski aku sudah mencarinya. Aku ingin melihat wajahnya, sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, lagi, lagi dan lagi. 

#And you will find me. Yeah, you will find me

In places that we've never been

For reasons we don't understand#

Walking in the wind

(hanya kamu yang bisa mempertemukan kita, ditempat, waktu dan alasan yang abstrak)

-aku berimajinasi


Monday, August 4, 2014

Menara Eiffel di Paris


            Pukul 10.00 malam waktu paris. Mungkin bagi penduduk Negaraku pukul 10 malam sudah larut. Sudah masuk kategori malam yang mulai mencekam, namun tidak untuk Negara yang aku tempati saat ini.

            Malam ini aku berdiri di sampir jendela balkon apartemen yang kusewa dari seorang kenalan ayah, aku melihat betapa megahnya menara yang selama ini kuimpikan. Betapa indahnya lampu-lampu malam yang berada disekitar menara itu, sungguh luar biasa. Aku biasa menghabiskan waktu luangku untuk berdiam diri sambil memandang menara indah itu -menara Eiffel- orang mengenalnya.

            Menara Eiffel atau Tour Eiffel orang Prancis menyebutnya, adalah menara besi yang dibangung di Champ de Mars, tepi sungai Seine Paris. Merupakan ikon global Prancis dan salalh satu bangunan struktur terkenal di dunia. Nama dari menara Eiffel sendiri diambil dari sang arsitek yakni Gustave Eiffel. Dibangun selama 2 tahun yaitu dari tahun 1887 hingga 1889. Dalam menara ini ada kurang lebih dua restoran didalamnya, Altitude 95 di tingkat pertama dan Jules Verne, sebuah restoran gastronomis mahal di tingkat kedua dengan lift khusus, Restoran ini memiliki bintang satu di Machlin Red Guide.

            Dulu, saat aku remaja aku ingin sekali menyentuh besi penyusun menara itu. Mengabadikan dalam sebuah foto yang hanya ada aku dan bangunan itu didalamnya. Dan semuanya terwujud, yaps benar – benar terjadi saat ini. bahkan, aku bisa melakukan sebanyak yang aku mau.

            Dulu, saat aku remaja aku ingin sekali bermain – main disekitar menara itu. Mencoba setiap makanan khas Negara fashion itu. Dan Sekarang, aku bisa mewujudkannya. Aku selalu memakan makanan khas Perancis saat jam makan siang tiba.

            Dulu juga, saat aku remaja aku berpikir bahwa Aku akan senang setiap saat jika aku bisa kuliah di Paris tempat Eiffel berada, aku akan bahagia bila aku memandang menara impianku setiap saat. tapi sayang, untuk yang satu ini aku salah. Aku memang bisa kuliah di Negara bermahkota Eiffel, Namun, untuk merasa bahagia sepanjang aku memandang Eiffel aku rasa aku tak bisa. Atau mungkin lebih tepatnya  tak …. Sanggup?\

---
Allahuakbar Allaaaahuakbar…..

            Adzan dzuhur berkumandang, bu istaniah berhenti menerangkan materi Fisika dan mulai mendekati kursinya.

“ silahkan solat berjamaah, kemudian kembalilah kekelas” ucapnya kemudian pergi dengan hanya membawa tas pribadinya.

            Aku tersenyum, mengambil mukenah putih yang biasa aku simpan dalam loker aku bercengkrama dengan sivia sahabatku.

         Aku menuju loker bergambar menara Eiffel, itu adalah lokerku, Loker milikku dan sivia bersebrangan, hanya berjarak 5 loker sehingga kami bisa tetap bergurau. Kami berdua memang terbiasa meletakkan mukenah dan sajadah diloker. Tujuannya, agar kami tak pernah lupa membawa mukenah ke sekolah, tapi kadang – kadang tetap saja kami lupa satu hal! Yakni lupa tak membawa pulang mukenah kami untuk dicuci hingga sebulan lebih.

“hahahaha”

Aku terkesiap. Reflex memutar tubuh seratus delapan puluh derajat saat suara tawa miliknya menjauh, aku melihatnya lagi siang ini. mataku tetap kufokuskan pada punggung tegap itu, pada tungkai yang terus saja berjalan menjauh dan menjauh hingga akhirnya dia tak terlihat. Aku menunduk

***

“ify!! tugas sains buat minggu depan bereskan?” Tanya sivia saat kita melangkah menuju gerbang sekolah dan pulang kerumah. Aku tak membalasnya, aku hanya mengacungkan jempol kananku kearahnya karena aku sibuk dengan ponselku yang tiba – tiba ngedrop kehabisan battery.

“okeeedeh sip. Kamu pulang bareng siapa?” Tanya sivia lagi

“dijemput”

“ohh, aku duluan ya. Jemputanku udah ada tuh, atau kamu mau bareng aku?”

“nggak, aku dijemput orang rumah”

“ihhh ify kebiasaan deh kalo lagi sibuk orang ngomong gak diliat. Ngambek ahh” kesal via. Aku mengernyit heran, namun kemudian tersenyum kearahnya dan mengabaikan nasib ponselku yang masih berlayar hitam (?).

“duhh maaf deh beby luvyy. Maaf udah nyuekin kamu” ucapku kemudian. Sivia memasang senyumnya kembali dan itu membuat kami tertawa renyah hingga beberapa saat.

“iyya, aku tau kok. I know all about you Ify my best friend.”

“oh ya? Are you sure know all about me? Apaa aja coba?” sivia mengangguk yakin

“kamu itu ify Alyssa jellery, gak pernah mau dipanggil sama nama belakang karena itu marga kamu, cantik putih kalem dan sangat taat sama orang tua, mamah papahnya baik banget tapi juga tegas, suka banget sama boneka kuda pink yang aku sebut kuda poni, adiknya mbak zahra yang cantik beudz, mimpinya pergi ke paris lihat menara Eiffel yang tinggi dan keren, pengen kuliah di luar negeri, terobsesi banget sama yang namanya Paris, Eiffel dan Prancis. Semua aksesorisnya pasti bergambar Eiffel dan aku juga suka meskipun nggak maniac banget, nggak pernah jelek dan selalu sahabatan sama sivia yang cantik jelita ini. hehehe… gimana ? masih kurang nggak?” sivia menjelaskan secara terinci. Seakan – akan ia sudah menghafalnya luar kepala. Aku mengangguk semangat pada sivia. Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya. Laft you sivia anggraeni.

“duhh, tau banget tentang aku. Udah sana pulang, kasian jemputanmu nunggu lama. Take care ya sivia”

“yadeh. Duluan ya” dan tinggallah aku sendiri disini, didepan gerbang sekolah menengah elite yang megah ini.

Aku masih mengutak atik ponselku yang mati, berpikir bagaimana cara untuk pulang. Duh aku jadi menyesal mengapa aku menolak tawaran sivia tadi, jika saja aku menerima tawaran itu, aku pasti sudah tidur telungkup diatas kasur empuk kamarku.

Ahh, bicara mengenai sivia sahabatku dia tetap sama, cerewet bawel cablak cantik care dan yang terpenting satu lagi, dia tetap menjadi sahabatku. Sivia adalah orang yang terus menemaniku, untuk ukuran sahabat dia adalah urutan teratas bagiku dan tak akan pernah terganti.

***

BRUK

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur empuk ini. raga yang menginginkan aku untuk segera tidur ternyata tidak selaras dengan pikiranku, buktinya aku masih saja membuka mata memandang langit kamar. Pikiranku tertuju padanya, seseorang yang mengantarku pulang siang tadi. Semakin aku memikirkannya jantung ini bekerja lebih cepat. Detakannya bisa aku rasakan, Oh aku deg – deg an!

#flashback

Aku rasa aku sudah cukup menunggu jemputan, karena itu aku memutuskan untuk pulang kerumah dengan jalan kaki. Yah itu adalah cara terakhirku untuk segera tiba dirumah, meskipun jarak antara rumahku dan sekolah cukup jauh namun bagaimana lagi?

“ify?” ada yang memanggilku! Dahiku mengernyit menunjukan ekspresi heran kepada sosok pemuda tegap yang berada dibelakangku, aku menunduk tak berani menatapnya.

“ya kak, ada apa ya?” ucapku dengan posisi yang sama. Menunduk

“kok kamu belum pulang? Gak dijemput ya?” Tanya pemuda  itu, kakak kelasku.

“iya kak, ponselku lowbatt jadi nggak bisa hubungin orang rumah buat jemput”

“mau bareng nggak?” tawarannya itu membuat aku bingung. Ohh GREAT!! Aku diam tak menjawab apapun. Jujur dari hati yang paling dalam aku tak pernah sanggup menolak ajakannya untuk pulang bersama, karena ia adalah orang yang diam-diam aku sukai. Tapi aku juga tak boleh menerima tawaran itu, karena dia pasti membawa cagiva merahnya dan itu adalah motor sacral bagi remaja sepertiku.

“tenang aja fy, aku bawa mobil kok.” Sambungnya lagi seolah dia bisa membaca kegundahan hatiku.

“iya deh kak. Tapi nggak ngerepotin kan kak?” hanya gelengan kepala yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian, melangkahlah kaki ini bersamanya. Aku berada di belakang punggungnya, dengan tangan yang tak berhenti meremas kuat menghindari rasa gugup yang terus adaseolah menenggelamkanku.

“ini fy rumahmu?”

“iya kak, mau mampir dulu nggak kak?” tanyaku hanya sekedar untuk basa – basi.

“nggak deh, aku ada janji. Takut kesorean, salam aja buat keluarga ya” aku mengangguk dan keluar dari mobil miliknya. Huftt… untung saja ia menolak, kalo tidak aku tak tau akan berbuat apa didalam rumah nanti. Belum lagi introgsi kepo dari mama dan kakak perempuanku yang pasti bikin ribet.

“duluan ya fy!” pamitnya sekali lagi.

“iya. Makasi ya kak rio” dan enyahlah mobil itu dari pandanganku. Aku menghembuskan nafas kasar dan melangkah menuju pintu rumahku. Badan ini sungguh mengenaskan, bau yang euhh banget, lengket dimana mana dan pegal pegal disendi mulai terasa. Aku akan mandi dan tidur siang.

#flashback off

Sejak kejadian itu kami berdua mulai akrab. Kami sering belajar bersama, kak rio sering memintaku untuk mengulang pelajaran kelas 10 yang ia lupa, pergi ke kantin bareng dan pulang bareng juga sering kami lakukan, kak rio juga terkadang membelikanku jika ada aksesoris Eiffel yang lucu, ternyata dia mengetahui kalo aku begitu maniac dengan Negara fashion itu. Bahkan ia pernah mengatakan ia akan menemaniku memandang Eiffel disampingnya, bersama-sama dan itu artinya kita berdua? Ughh he is sweet man.

SKIP

Aku berdiri sendiri di gerbang sekolah, menunggu jemputan. Aku tak menyangka hubungan kami berjalan Selama ini, 2 tahun sudah kami dekat. Aku dan kak rio, aku sekarang sudah kelas 3 SMA, kak rio sudah lulus 2 tahun lalu dan saat ini kuliah jurusan Management di UI.

Setelah beberapa menit aku menunggu, mobil Terios hitam pekat itu terlihat mendekat. Aku tau jelas itu adalah mobil kak rio. Mobil yang selalu mengantar dan menjemputku jika kak rio sedang mempunyai waktu luang, seperti saat ini.

“gimana ujiannya fy?” Tanya kak rio setelah aku memposisikan duduk di samping kemudi.

“Alhamdulillah kak, lancar. Kakak gimana kuliahnya?” tanyaku balik

“alhamdulillah juga. Oh iya, rencana kedepan gimana fy? Mau ngambil dimana?”

“rencananya sih tergantung sama ayah kak, aku belum ngomong sama ayah”

“ya dibicarain dong fy. Kan itu bentar lagi. Tapi by the way, kamu maunya kuliah dimana?” kak rio membelokkan mobilnya.

“kalo aku sih maunya ambil jurusan seni di Paris kak. Aku juga udah ajukan beasiswa minggu kemarin. Minta bantu doanya ya kak, semoga diterima.” Kak rio mengangguk dan mengacak – acak rambutku pelan.

“fy!” kak rio memanggilku tepat saat aku akan membuka pintu keluar mobil.

“ya, ada apa?” aku menolehkan wajahku ke hadapannya. Mata kita bertemu dan kak rio langsung menolehkan wajahnya ke depan.

“kalau misalnya kita menjalin hubungan yang lebih serius setelah kamu lulus gimana fy?” kak rio agak ragu mengatakan itu, aku dapat melihat kegugupan dalam suaranya. Aku terdiam tak menjawab apapun, aku ragu aku harus menjawab apa karena aku terlalu kaget dengan pertanyaan semacam itu.

“aku gak tahu kak. Makasih sudah mengantar ify pulang. Assalamualaikum” aku keluar dari mobilnya, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan segera pergi.

***

Hari berlalu, ujian Nasionalpun sudah aku lakukan dan aku mendapat hasil yang memuaskan, nilai ujianku tidak ada dibawah 85. Aku bersyukur atas semua itu. Sekarang aku dan sivia sedang duduk di koridor sekolah, kami memang sudah keluar dari sekolah ini tapi kepentingan cap 3 jari untuk ijazah SMA mengharuskan kami untuk datang ke sekolah ini lagi.

“maaf kak, kakak ini kak ify kan?” aku menatap adik kelasku itu dan dengan pasti aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“kakak dipanggil pak Billah sekarang kak. Permisi” dan kemudian anak itu pergi. Aku menatapnya dengan mengangkat sebelah alis bingung. Namun aku tak menghiraukannya, aku langsung beranjak ke ruang kepsek.

***

To kak rio: kak, sibuk nggak?

Aku menimang – nimang ponselku, pesan yang tadi aku kirim. Tidak ketara bahwa aku modus ingin bertemu dan jalan – jalan dengannya kan? Duh kalau itu benar yang tertangkap, Betapa malunya wajah ini-_-

Aku akan memberitahukan surat ini kepada kak rio, surat yang tadi aku terima dari Pak Billah kepala sekolah yang memanggilku siang tadi. Kalian tau apa? Aku diterima! Beasiswa yang aku ajukan di Paris berhasil. Aku akan memberitahukan berita kebahagiaan ini kepadanya, aku harap dia bangga kepadaku.

From kak rio: nggak, fy jalan yuk! I’ve smthng 2 tell you. I’ll arrive @yourhome 5 minutes.

YHAA!!! Yihaa!! Tanpa harus aku yg terlalu memodus kak rio paham juga, huft untung saja kak rio tipe cowok yang peka jadi aku tidak perlu terlalu memoduskan diri. Agar tak memakan waktu lama, aku berganti baju dengan cepat dan tak lupa membalas pesan kak rio sebelumnya.

To kak Rio: I’m waiting

Aku berjalan pelan dan duduk di salah satu kursi restoran ini. aku memandang kak rio yang berada didepanku, aku tak menyangka dia melakukan hal yang sama. Dan GOSH blushing pipi ini aku rasa mulai ada.
“fy?”

“kak” aku melihat ke arahnya, aku memberi kode agar kak rio yang mengatakan terlebih dahulu dan ia mengangguk mengerti.

“aku mau kita serius fy, maksudku aku mau kita tunangan” dia memberikan kotak merah beludru yang baru diambil dari saku celananya.

“kak, aku masih kecil kak. Aku baru saja lulus SMA. Aku rasa ini terlalu cepat kak” aku mengambil sebuah surat yang memang ingin aku tunjukkan padanya. Surat penerimaan Beasiswaku di Paris.

 “aku udah bilang ke ayah mamamu fy, mereka terserah kamu. Aku akan menikahimu nanti setelah kamu lulus dan aku telah bekerja serta layak menjadi suami. Saat ini, aku hanya ingin mengikatmu fy, agar kamu tetap disisiku. Kamu mau kan fy?”

“aku mau ngasih ini kak” aku berbicara duluan menyambung perkataanku yang sebelumnya. Kak rio terlihat ragu, tapi akhirnya mengambil surat itu dan membacanya.

“kamu diterima? Kapan kamu berangkat?”

“untuk pertanyaan kak rio yang tadi aku minta maaf. Bukannya aku mau nolak kakak, tapi aku rasa kita masih kecil kak. Besok aku berangkat, kalau kak rio bersedia menungguku selama aku di Paris aku harap kak rio ikut mengantarku tapi, kalau tidak gapapa kak. Penerbangannya pukul 9.15 kak, aku duluan ya kak rio. Terimakasih” aku pergi dari hadapannya, aku berharap kak rio akan datang untuk mengantarku esok.

***

Sampai saat ini aku masih menunggu, walau rasanya mustahil ia datang tapi aku tak peduli. Aku mencoba menelfon ponselnya namun sama, hasilnya nihil dan itu berarti kak Rio Menyerah! Dia tak mau menunggu, dan tak akan menungguku lulus kuliah.

Aku merasakan perih diseluruh bagian hati ini, aku kecewa dan marah. Aku kecewa pada kak Rio karena dia tak mau datang mengantarkan kepergianku, Aku marah pada kak Rio karena ia dengan mudahnya menyerah tanpa mempertahankanku.

Bukan maksud hati ini menolak lamarannya kemarin, tapi aku rasa aku belum sanggup. Aku mengerti maksudnya yang hanya ingin mengikatku tapi coba pikir, aku hanyalah anak bawang yang baru melepas pakaian abu – abu dan akan mengikuti ospek anak kuliah! Tahu apa aku masalah tunangan? Semoga saja kak Rio mengerti dan memaafkanku.

Aku mendengar informasi pesawat yang aku tumpangn sebentar lagi lepas landas. Aku mengirim pesan terakhir pada ponselnya, aku tak peduli apakah ia membacanya atau tidak. Terimakasih kak Rio. Aku Pergi.

Kak, aku minta maaf sebelumnya. Bukan maksudku ingin menolak kakak, aku ingin kita belajar mencari kedewasaan terlebih dahulu. Aku tahu maksud kakak hanya ingin mengikatku, tapi pertunangan itu bukan hanya sebatas ikatan 2 manusia yang akan menikah. Aku juga belum tahu makna pertunangan seperti apa, oleh karena itu aku tak berani melakukannya.
Kak, aku hanya ingin kakak tahu bahwa aku menyayangi kakak. Kakak adalah laki – laki pertama yang aku kagumi dulu dan aku sayangi sekarang. Terimakasih kakak telah menemaniku selalu dalam 2 tahun kemarin. Ketidakhadiran kakak tadi sudah menjawab semuanya, kakak tak mau menunggu kepulanganku dan itu berarti kak rio melepasku. Terimakasih kak, aku pamit pergi.

And always loving you
Ify Alyssa Jellery


---

Aku menutup jendela apartemenku, melangkah keluar kamar dan pergi ke Eiffel. Sudah cukup aku mengingatnya, mengingat semua yang ia katakana padaku dulu 3 tahun lalu. Dia yang akan berada disampingku memandang Eiffel, dia yang akan menemaniku pergi ke Negara ini dan dia yang akan berada didepanku untuk mengabadikan fotoku dengan Eiffel.

Dan tibalah aku disini. Di taman yang ramai meski malam sudah larut, pukul setengah sebelas malam. Aku duduk dikursi putih pinggir air mancur kolam taman, mataku memandang keseluruh penjuru taman ini. aku terbelalak kaget melihat seorang pemuda disana! Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Dia berdiri disana membelakangiku dengan seorang wanita, mencium kening wanita itu lama lalu merangkul bahunya dan memandang kearah menara Eiffel berada.

Aku mendekatinya untuk memastikan apakah ia benar orang yang aku kenal. Setelah berada dibelakangnya aku menepuk pundaknya. Kedua orang itu menoleh dan aku semakin dibuat ternganga melihat siapa lelaki itu, aku merasakan mataku memanas, dan akhirnya menangis.

“kak Rio?”

“Ify?”

 END


Yeay!!!selesei juga
ini cerita pertama yang berhasil saya keluarkan dan ending. Maaf kalo nge-flat ataupun gada konflik plus gak nge-feel.
Terimakasihh sekiann dan wassalam.