Pukul 10.00 malam waktu paris. Mungkin bagi penduduk Negaraku pukul 10 malam sudah larut. Sudah masuk kategori malam yang mulai mencekam, namun tidak untuk Negara yang aku tempati saat ini.
Malam ini aku berdiri di sampir jendela balkon apartemen
yang kusewa dari seorang kenalan ayah, aku melihat betapa megahnya menara yang
selama ini kuimpikan. Betapa indahnya lampu-lampu malam yang berada disekitar
menara itu, sungguh luar biasa. Aku biasa menghabiskan waktu luangku untuk
berdiam diri sambil memandang menara indah itu -menara Eiffel- orang mengenalnya.
Menara Eiffel atau Tour Eiffel orang Prancis menyebutnya,
adalah menara besi yang dibangung di Champ
de Mars, tepi sungai Seine Paris. Merupakan ikon global Prancis dan salalh
satu bangunan struktur terkenal di dunia. Nama dari menara Eiffel sendiri diambil
dari sang arsitek yakni Gustave Eiffel. Dibangun selama 2 tahun yaitu dari
tahun 1887 hingga 1889. Dalam menara ini ada kurang lebih dua restoran
didalamnya, Altitude 95 di tingkat pertama dan Jules Verne, sebuah restoran
gastronomis mahal di tingkat kedua dengan lift khusus, Restoran ini memiliki
bintang satu di Machlin Red Guide.
Dulu, saat aku remaja aku ingin sekali menyentuh besi
penyusun menara itu. Mengabadikan dalam sebuah foto yang hanya ada aku dan
bangunan itu didalamnya. Dan semuanya terwujud, yaps benar – benar terjadi saat
ini. bahkan, aku bisa melakukan sebanyak yang aku mau.
Dulu, saat aku remaja aku ingin sekali bermain – main
disekitar menara itu. Mencoba setiap makanan khas Negara fashion itu. Dan Sekarang,
aku bisa mewujudkannya. Aku selalu memakan makanan khas Perancis saat jam makan
siang tiba.
Dulu juga, saat aku remaja aku berpikir bahwa Aku akan
senang setiap saat jika aku bisa kuliah di Paris tempat Eiffel berada, aku akan
bahagia bila aku memandang menara impianku setiap saat. tapi sayang, untuk yang
satu ini aku salah. Aku memang bisa kuliah di Negara bermahkota Eiffel, Namun,
untuk merasa bahagia sepanjang aku memandang Eiffel aku rasa aku tak bisa. Atau
mungkin lebih tepatnya tak …. Sanggup?\
---
Allahuakbar
Allaaaahuakbar…..
Adzan dzuhur berkumandang, bu istaniah berhenti
menerangkan materi Fisika dan mulai mendekati kursinya.
“ silahkan solat
berjamaah, kemudian kembalilah kekelas” ucapnya kemudian pergi dengan hanya
membawa tas pribadinya.
Aku tersenyum, mengambil mukenah putih yang biasa aku
simpan dalam loker aku bercengkrama dengan sivia sahabatku.
Aku menuju loker bergambar menara Eiffel, itu adalah
lokerku, Loker milikku dan sivia bersebrangan, hanya berjarak 5 loker sehingga
kami bisa tetap bergurau. Kami berdua memang terbiasa meletakkan mukenah dan
sajadah diloker. Tujuannya, agar kami tak pernah lupa membawa mukenah ke
sekolah, tapi kadang – kadang tetap saja kami lupa satu hal! Yakni lupa tak
membawa pulang mukenah kami untuk dicuci hingga sebulan lebih.
“hahahaha”
Aku
terkesiap. Reflex memutar tubuh seratus delapan puluh derajat saat suara tawa
miliknya menjauh, aku melihatnya lagi siang ini. mataku tetap kufokuskan pada
punggung tegap itu, pada tungkai yang terus saja berjalan menjauh dan menjauh
hingga akhirnya dia tak terlihat. Aku menunduk
***
“ify!!
tugas sains buat minggu depan bereskan?” Tanya sivia saat kita melangkah menuju
gerbang sekolah dan pulang kerumah. Aku tak membalasnya, aku hanya mengacungkan
jempol kananku kearahnya karena aku sibuk dengan ponselku yang tiba – tiba
ngedrop kehabisan battery.
“okeeedeh
sip. Kamu pulang bareng siapa?” Tanya sivia lagi
“dijemput”
“ohh,
aku duluan ya. Jemputanku udah ada tuh, atau kamu mau bareng aku?”
“nggak,
aku dijemput orang rumah”
“ihhh
ify kebiasaan deh kalo lagi sibuk orang ngomong gak diliat. Ngambek ahh” kesal
via. Aku mengernyit heran, namun kemudian tersenyum kearahnya dan mengabaikan
nasib ponselku yang masih berlayar hitam (?).
“duhh
maaf deh beby luvyy. Maaf udah nyuekin kamu” ucapku kemudian. Sivia memasang
senyumnya kembali dan itu membuat kami tertawa renyah hingga beberapa saat.
“iyya,
aku tau kok. I know all about you Ify my best friend.”
“oh
ya? Are you sure know all about me? Apaa aja coba?” sivia mengangguk yakin
“kamu
itu ify Alyssa jellery, gak pernah mau dipanggil sama nama belakang karena itu
marga kamu, cantik putih kalem dan sangat taat sama orang tua, mamah papahnya
baik banget tapi juga tegas, suka banget sama boneka kuda pink yang aku sebut
kuda poni, adiknya mbak zahra yang cantik beudz, mimpinya pergi ke paris lihat
menara Eiffel yang tinggi dan keren, pengen kuliah di luar negeri, terobsesi
banget sama yang namanya Paris, Eiffel dan Prancis. Semua aksesorisnya pasti
bergambar Eiffel dan aku juga suka meskipun nggak maniac banget, nggak pernah jelek dan selalu
sahabatan sama sivia yang cantik jelita ini. hehehe… gimana ? masih kurang
nggak?” sivia menjelaskan secara terinci. Seakan – akan ia sudah menghafalnya
luar kepala. Aku mengangguk semangat pada sivia. Betapa beruntungnya aku
memiliki sahabat sepertinya. Laft you sivia anggraeni.
“duhh,
tau banget tentang aku. Udah sana pulang, kasian jemputanmu nunggu lama. Take
care ya sivia”
“yadeh.
Duluan ya” dan tinggallah aku sendiri disini, didepan gerbang sekolah menengah
elite yang megah ini.
Aku
masih mengutak atik ponselku yang mati, berpikir bagaimana cara untuk pulang.
Duh aku jadi menyesal mengapa aku menolak tawaran sivia tadi, jika saja aku
menerima tawaran itu, aku pasti sudah tidur telungkup diatas kasur empuk
kamarku.
Ahh,
bicara mengenai sivia sahabatku dia tetap sama, cerewet bawel cablak cantik
care dan yang terpenting satu lagi, dia tetap menjadi sahabatku. Sivia adalah
orang yang terus menemaniku, untuk ukuran sahabat dia adalah urutan teratas
bagiku dan tak akan pernah terganti.
***
BRUK
Aku
menghempaskan tubuhku ke kasur empuk ini. raga yang menginginkan aku untuk
segera tidur ternyata tidak selaras dengan pikiranku, buktinya aku masih saja
membuka mata memandang langit kamar. Pikiranku tertuju padanya, seseorang yang
mengantarku pulang siang tadi. Semakin aku memikirkannya jantung ini bekerja
lebih cepat. Detakannya bisa aku rasakan, Oh aku deg – deg an!
#flashback
Aku
rasa aku sudah cukup menunggu jemputan, karena itu aku memutuskan untuk pulang
kerumah dengan jalan kaki. Yah itu adalah cara terakhirku untuk segera tiba
dirumah, meskipun jarak antara rumahku dan sekolah cukup jauh namun bagaimana
lagi?
“ify?”
ada yang memanggilku! Dahiku mengernyit menunjukan ekspresi heran kepada sosok
pemuda tegap yang berada dibelakangku, aku menunduk tak berani menatapnya.
“ya
kak, ada apa ya?” ucapku dengan posisi yang sama. Menunduk
“kok
kamu belum pulang? Gak dijemput ya?” Tanya pemuda itu, kakak kelasku.
“iya
kak, ponselku lowbatt jadi nggak bisa hubungin orang rumah buat jemput”
“mau
bareng nggak?” tawarannya itu membuat aku bingung. Ohh GREAT!! Aku diam tak
menjawab apapun. Jujur dari hati yang paling dalam aku tak pernah sanggup
menolak ajakannya untuk pulang bersama, karena ia adalah orang yang diam-diam
aku sukai. Tapi aku juga tak boleh menerima tawaran itu, karena dia pasti
membawa cagiva merahnya dan itu adalah motor sacral bagi remaja sepertiku.
“tenang
aja fy, aku bawa mobil kok.” Sambungnya lagi seolah dia bisa membaca kegundahan
hatiku.
“iya deh kak. Tapi nggak ngerepotin kan kak?”
hanya gelengan kepala yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian, melangkahlah
kaki ini bersamanya. Aku berada di belakang punggungnya, dengan tangan yang tak
berhenti meremas kuat menghindari rasa gugup yang terus adaseolah
menenggelamkanku.
“ini
fy rumahmu?”
“iya
kak, mau mampir dulu nggak kak?” tanyaku hanya sekedar untuk basa – basi.
“nggak
deh, aku ada janji. Takut kesorean, salam aja buat keluarga ya” aku mengangguk
dan keluar dari mobil miliknya. Huftt… untung saja ia menolak, kalo tidak aku
tak tau akan berbuat apa didalam rumah nanti. Belum lagi introgsi kepo dari
mama dan kakak perempuanku yang pasti bikin ribet.
“duluan
ya fy!” pamitnya sekali lagi.
“iya.
Makasi ya kak rio” dan enyahlah mobil itu dari pandanganku. Aku menghembuskan
nafas kasar dan melangkah menuju pintu rumahku. Badan ini sungguh mengenaskan,
bau yang euhh banget, lengket dimana mana dan pegal pegal disendi mulai terasa.
Aku akan mandi dan tidur siang.
#flashback
off
Sejak
kejadian itu kami berdua mulai akrab. Kami sering belajar bersama, kak rio
sering memintaku untuk mengulang pelajaran kelas 10 yang ia lupa, pergi ke
kantin bareng dan pulang bareng juga sering kami lakukan, kak rio juga terkadang
membelikanku jika ada aksesoris Eiffel yang lucu, ternyata dia mengetahui kalo
aku begitu maniac dengan Negara fashion itu. Bahkan ia pernah mengatakan ia
akan menemaniku memandang Eiffel disampingnya, bersama-sama dan itu artinya kita
berdua? Ughh he is sweet man.
SKIP
Aku
berdiri sendiri di gerbang sekolah, menunggu jemputan. Aku tak menyangka
hubungan kami berjalan Selama ini, 2 tahun sudah kami dekat. Aku dan kak rio,
aku sekarang sudah kelas 3 SMA, kak rio sudah lulus 2 tahun lalu dan saat ini
kuliah jurusan Management di UI.
Setelah
beberapa menit aku menunggu, mobil Terios hitam pekat itu terlihat mendekat.
Aku tau jelas itu adalah mobil kak rio. Mobil yang selalu mengantar dan
menjemputku jika kak rio sedang mempunyai waktu luang, seperti saat ini.
“gimana
ujiannya fy?” Tanya kak rio setelah aku memposisikan duduk di samping kemudi.
“Alhamdulillah
kak, lancar. Kakak gimana kuliahnya?” tanyaku balik
“alhamdulillah
juga. Oh iya, rencana kedepan gimana fy? Mau ngambil dimana?”
“rencananya
sih tergantung sama ayah kak, aku belum ngomong sama ayah”
“ya
dibicarain dong fy. Kan itu bentar lagi. Tapi by the way, kamu maunya kuliah
dimana?” kak rio membelokkan mobilnya.
“kalo
aku sih maunya ambil jurusan seni di Paris kak. Aku juga udah ajukan beasiswa
minggu kemarin. Minta bantu doanya ya kak, semoga diterima.” Kak rio mengangguk
dan mengacak – acak rambutku pelan.
“fy!”
kak rio memanggilku tepat saat aku akan membuka pintu keluar mobil.
“ya,
ada apa?” aku menolehkan wajahku ke hadapannya. Mata kita bertemu dan kak rio
langsung menolehkan wajahnya ke depan.
“kalau
misalnya kita menjalin hubungan yang lebih serius setelah kamu lulus gimana
fy?” kak rio agak ragu mengatakan itu, aku dapat melihat kegugupan dalam
suaranya. Aku terdiam tak menjawab apapun, aku ragu aku harus menjawab apa
karena aku terlalu kaget dengan pertanyaan semacam itu.
“aku
gak tahu kak. Makasih sudah mengantar ify pulang. Assalamualaikum” aku keluar
dari mobilnya, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan segera pergi.
***
Hari
berlalu, ujian Nasionalpun sudah aku lakukan dan aku mendapat hasil yang
memuaskan, nilai ujianku tidak ada dibawah 85. Aku bersyukur atas semua itu. Sekarang
aku dan sivia sedang duduk di koridor sekolah, kami memang sudah keluar dari
sekolah ini tapi kepentingan cap 3 jari untuk ijazah SMA mengharuskan kami
untuk datang ke sekolah ini lagi.
“maaf
kak, kakak ini kak ify kan?” aku menatap adik kelasku itu dan dengan pasti aku
mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
“kakak
dipanggil pak Billah sekarang kak. Permisi” dan kemudian anak itu pergi. Aku
menatapnya dengan mengangkat sebelah alis bingung. Namun aku tak
menghiraukannya, aku langsung beranjak ke ruang kepsek.
***
To
kak rio: kak, sibuk nggak?
Aku
menimang – nimang ponselku, pesan yang tadi aku kirim. Tidak ketara bahwa aku
modus ingin bertemu dan jalan – jalan dengannya kan? Duh kalau itu benar yang
tertangkap, Betapa malunya wajah ini-_-
Aku
akan memberitahukan surat ini kepada kak rio, surat yang tadi aku terima dari
Pak Billah kepala sekolah yang memanggilku siang tadi. Kalian tau apa? Aku
diterima! Beasiswa yang aku ajukan di Paris berhasil. Aku akan memberitahukan
berita kebahagiaan ini kepadanya, aku harap dia bangga kepadaku.
From
kak rio: nggak, fy jalan yuk! I’ve smthng 2 tell you. I’ll arrive @yourhome 5
minutes.
YHAA!!!
Yihaa!! Tanpa harus aku yg terlalu memodus kak rio paham juga, huft untung saja
kak rio tipe cowok yang peka jadi aku tidak perlu terlalu memoduskan diri. Agar
tak memakan waktu lama, aku berganti baju dengan cepat dan tak lupa membalas
pesan kak rio sebelumnya.
To
kak Rio: I’m waiting
Aku
berjalan pelan dan duduk di salah satu kursi restoran ini. aku memandang kak
rio yang berada didepanku, aku tak menyangka dia melakukan hal yang sama. Dan
GOSH blushing pipi ini aku rasa mulai ada.
“fy?”
“kak”
aku melihat ke arahnya, aku memberi kode agar kak rio yang mengatakan terlebih
dahulu dan ia mengangguk mengerti.
“aku
mau kita serius fy, maksudku aku mau kita tunangan” dia memberikan kotak merah
beludru yang baru diambil dari saku celananya.
“kak,
aku masih kecil kak. Aku baru saja lulus SMA. Aku rasa ini terlalu cepat kak”
aku mengambil sebuah surat yang memang ingin aku tunjukkan padanya. Surat
penerimaan Beasiswaku di Paris.
“aku udah bilang ke ayah mamamu fy, mereka
terserah kamu. Aku akan menikahimu nanti setelah kamu lulus dan aku telah
bekerja serta layak menjadi suami. Saat ini, aku hanya ingin mengikatmu fy,
agar kamu tetap disisiku. Kamu mau kan fy?”
“aku
mau ngasih ini kak” aku berbicara duluan menyambung perkataanku yang
sebelumnya. Kak rio terlihat ragu, tapi akhirnya mengambil surat itu dan
membacanya.
“kamu
diterima? Kapan kamu berangkat?”
“untuk
pertanyaan kak rio yang tadi aku minta maaf. Bukannya aku mau nolak kakak, tapi
aku rasa kita masih kecil kak. Besok aku berangkat, kalau kak rio bersedia
menungguku selama aku di Paris aku harap kak rio ikut mengantarku tapi, kalau
tidak gapapa kak. Penerbangannya pukul 9.15 kak, aku duluan ya kak rio.
Terimakasih” aku pergi dari hadapannya, aku berharap kak rio akan datang untuk
mengantarku esok.
***
Sampai
saat ini aku masih menunggu, walau rasanya mustahil ia datang tapi aku tak
peduli. Aku mencoba menelfon ponselnya namun sama, hasilnya nihil dan itu
berarti kak Rio Menyerah! Dia tak mau menunggu, dan tak akan menungguku lulus
kuliah.
Aku
merasakan perih diseluruh bagian hati ini, aku kecewa dan marah. Aku kecewa
pada kak Rio karena dia tak mau datang mengantarkan kepergianku, Aku marah pada
kak Rio karena ia dengan mudahnya menyerah tanpa mempertahankanku.
Bukan
maksud hati ini menolak lamarannya kemarin, tapi aku rasa aku belum sanggup.
Aku mengerti maksudnya yang hanya ingin mengikatku tapi coba pikir, aku
hanyalah anak bawang yang baru melepas pakaian abu – abu dan akan mengikuti
ospek anak kuliah! Tahu apa aku masalah tunangan? Semoga saja kak Rio mengerti
dan memaafkanku.
Aku
mendengar informasi pesawat yang aku tumpangn sebentar lagi lepas landas. Aku
mengirim pesan terakhir pada ponselnya, aku tak peduli apakah ia membacanya
atau tidak. Terimakasih kak Rio. Aku Pergi.
Kak,
aku minta maaf sebelumnya. Bukan maksudku ingin menolak kakak, aku ingin kita
belajar mencari kedewasaan terlebih dahulu. Aku tahu maksud kakak hanya ingin
mengikatku, tapi pertunangan itu bukan hanya sebatas ikatan 2 manusia yang akan
menikah. Aku juga belum tahu makna pertunangan seperti apa, oleh karena itu aku
tak berani melakukannya.
Kak,
aku hanya ingin kakak tahu bahwa aku menyayangi kakak. Kakak adalah laki – laki
pertama yang aku kagumi dulu dan aku sayangi sekarang. Terimakasih kakak telah
menemaniku selalu dalam 2 tahun kemarin. Ketidakhadiran kakak tadi sudah
menjawab semuanya, kakak tak mau menunggu kepulanganku dan itu berarti kak rio
melepasku. Terimakasih kak, aku pamit pergi.
And
always loving you
Ify
Alyssa Jellery
---
Aku
menutup jendela apartemenku, melangkah keluar kamar dan pergi ke Eiffel. Sudah
cukup aku mengingatnya, mengingat semua yang ia katakana padaku dulu 3 tahun
lalu. Dia yang akan berada disampingku memandang Eiffel, dia yang akan
menemaniku pergi ke Negara ini dan dia yang akan berada didepanku untuk
mengabadikan fotoku dengan Eiffel.
Dan
tibalah aku disini. Di taman yang ramai meski malam sudah larut, pukul setengah
sebelas malam. Aku duduk dikursi putih pinggir air mancur kolam taman, mataku
memandang keseluruh penjuru taman ini. aku terbelalak kaget melihat seorang
pemuda disana! Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Dia berdiri disana
membelakangiku dengan seorang wanita, mencium kening wanita itu lama lalu
merangkul bahunya dan memandang kearah menara Eiffel berada.
Aku
mendekatinya untuk memastikan apakah ia benar orang yang aku kenal. Setelah
berada dibelakangnya aku menepuk pundaknya. Kedua orang itu menoleh dan aku
semakin dibuat ternganga melihat siapa lelaki itu, aku merasakan mataku
memanas, dan akhirnya menangis.
“kak
Rio?”
“Ify?”
END
Yeay!!!selesei juga
ini cerita pertama yang berhasil saya keluarkan dan ending.
Maaf kalo nge-flat ataupun gada konflik plus gak nge-feel.
Terimakasihh sekiann dan wassalam.
No comments:
Post a Comment