Monday, August 4, 2014

Menara Eiffel di Paris


            Pukul 10.00 malam waktu paris. Mungkin bagi penduduk Negaraku pukul 10 malam sudah larut. Sudah masuk kategori malam yang mulai mencekam, namun tidak untuk Negara yang aku tempati saat ini.

            Malam ini aku berdiri di sampir jendela balkon apartemen yang kusewa dari seorang kenalan ayah, aku melihat betapa megahnya menara yang selama ini kuimpikan. Betapa indahnya lampu-lampu malam yang berada disekitar menara itu, sungguh luar biasa. Aku biasa menghabiskan waktu luangku untuk berdiam diri sambil memandang menara indah itu -menara Eiffel- orang mengenalnya.

            Menara Eiffel atau Tour Eiffel orang Prancis menyebutnya, adalah menara besi yang dibangung di Champ de Mars, tepi sungai Seine Paris. Merupakan ikon global Prancis dan salalh satu bangunan struktur terkenal di dunia. Nama dari menara Eiffel sendiri diambil dari sang arsitek yakni Gustave Eiffel. Dibangun selama 2 tahun yaitu dari tahun 1887 hingga 1889. Dalam menara ini ada kurang lebih dua restoran didalamnya, Altitude 95 di tingkat pertama dan Jules Verne, sebuah restoran gastronomis mahal di tingkat kedua dengan lift khusus, Restoran ini memiliki bintang satu di Machlin Red Guide.

            Dulu, saat aku remaja aku ingin sekali menyentuh besi penyusun menara itu. Mengabadikan dalam sebuah foto yang hanya ada aku dan bangunan itu didalamnya. Dan semuanya terwujud, yaps benar – benar terjadi saat ini. bahkan, aku bisa melakukan sebanyak yang aku mau.

            Dulu, saat aku remaja aku ingin sekali bermain – main disekitar menara itu. Mencoba setiap makanan khas Negara fashion itu. Dan Sekarang, aku bisa mewujudkannya. Aku selalu memakan makanan khas Perancis saat jam makan siang tiba.

            Dulu juga, saat aku remaja aku berpikir bahwa Aku akan senang setiap saat jika aku bisa kuliah di Paris tempat Eiffel berada, aku akan bahagia bila aku memandang menara impianku setiap saat. tapi sayang, untuk yang satu ini aku salah. Aku memang bisa kuliah di Negara bermahkota Eiffel, Namun, untuk merasa bahagia sepanjang aku memandang Eiffel aku rasa aku tak bisa. Atau mungkin lebih tepatnya  tak …. Sanggup?\

---
Allahuakbar Allaaaahuakbar…..

            Adzan dzuhur berkumandang, bu istaniah berhenti menerangkan materi Fisika dan mulai mendekati kursinya.

“ silahkan solat berjamaah, kemudian kembalilah kekelas” ucapnya kemudian pergi dengan hanya membawa tas pribadinya.

            Aku tersenyum, mengambil mukenah putih yang biasa aku simpan dalam loker aku bercengkrama dengan sivia sahabatku.

         Aku menuju loker bergambar menara Eiffel, itu adalah lokerku, Loker milikku dan sivia bersebrangan, hanya berjarak 5 loker sehingga kami bisa tetap bergurau. Kami berdua memang terbiasa meletakkan mukenah dan sajadah diloker. Tujuannya, agar kami tak pernah lupa membawa mukenah ke sekolah, tapi kadang – kadang tetap saja kami lupa satu hal! Yakni lupa tak membawa pulang mukenah kami untuk dicuci hingga sebulan lebih.

“hahahaha”

Aku terkesiap. Reflex memutar tubuh seratus delapan puluh derajat saat suara tawa miliknya menjauh, aku melihatnya lagi siang ini. mataku tetap kufokuskan pada punggung tegap itu, pada tungkai yang terus saja berjalan menjauh dan menjauh hingga akhirnya dia tak terlihat. Aku menunduk

***

“ify!! tugas sains buat minggu depan bereskan?” Tanya sivia saat kita melangkah menuju gerbang sekolah dan pulang kerumah. Aku tak membalasnya, aku hanya mengacungkan jempol kananku kearahnya karena aku sibuk dengan ponselku yang tiba – tiba ngedrop kehabisan battery.

“okeeedeh sip. Kamu pulang bareng siapa?” Tanya sivia lagi

“dijemput”

“ohh, aku duluan ya. Jemputanku udah ada tuh, atau kamu mau bareng aku?”

“nggak, aku dijemput orang rumah”

“ihhh ify kebiasaan deh kalo lagi sibuk orang ngomong gak diliat. Ngambek ahh” kesal via. Aku mengernyit heran, namun kemudian tersenyum kearahnya dan mengabaikan nasib ponselku yang masih berlayar hitam (?).

“duhh maaf deh beby luvyy. Maaf udah nyuekin kamu” ucapku kemudian. Sivia memasang senyumnya kembali dan itu membuat kami tertawa renyah hingga beberapa saat.

“iyya, aku tau kok. I know all about you Ify my best friend.”

“oh ya? Are you sure know all about me? Apaa aja coba?” sivia mengangguk yakin

“kamu itu ify Alyssa jellery, gak pernah mau dipanggil sama nama belakang karena itu marga kamu, cantik putih kalem dan sangat taat sama orang tua, mamah papahnya baik banget tapi juga tegas, suka banget sama boneka kuda pink yang aku sebut kuda poni, adiknya mbak zahra yang cantik beudz, mimpinya pergi ke paris lihat menara Eiffel yang tinggi dan keren, pengen kuliah di luar negeri, terobsesi banget sama yang namanya Paris, Eiffel dan Prancis. Semua aksesorisnya pasti bergambar Eiffel dan aku juga suka meskipun nggak maniac banget, nggak pernah jelek dan selalu sahabatan sama sivia yang cantik jelita ini. hehehe… gimana ? masih kurang nggak?” sivia menjelaskan secara terinci. Seakan – akan ia sudah menghafalnya luar kepala. Aku mengangguk semangat pada sivia. Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya. Laft you sivia anggraeni.

“duhh, tau banget tentang aku. Udah sana pulang, kasian jemputanmu nunggu lama. Take care ya sivia”

“yadeh. Duluan ya” dan tinggallah aku sendiri disini, didepan gerbang sekolah menengah elite yang megah ini.

Aku masih mengutak atik ponselku yang mati, berpikir bagaimana cara untuk pulang. Duh aku jadi menyesal mengapa aku menolak tawaran sivia tadi, jika saja aku menerima tawaran itu, aku pasti sudah tidur telungkup diatas kasur empuk kamarku.

Ahh, bicara mengenai sivia sahabatku dia tetap sama, cerewet bawel cablak cantik care dan yang terpenting satu lagi, dia tetap menjadi sahabatku. Sivia adalah orang yang terus menemaniku, untuk ukuran sahabat dia adalah urutan teratas bagiku dan tak akan pernah terganti.

***

BRUK

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur empuk ini. raga yang menginginkan aku untuk segera tidur ternyata tidak selaras dengan pikiranku, buktinya aku masih saja membuka mata memandang langit kamar. Pikiranku tertuju padanya, seseorang yang mengantarku pulang siang tadi. Semakin aku memikirkannya jantung ini bekerja lebih cepat. Detakannya bisa aku rasakan, Oh aku deg – deg an!

#flashback

Aku rasa aku sudah cukup menunggu jemputan, karena itu aku memutuskan untuk pulang kerumah dengan jalan kaki. Yah itu adalah cara terakhirku untuk segera tiba dirumah, meskipun jarak antara rumahku dan sekolah cukup jauh namun bagaimana lagi?

“ify?” ada yang memanggilku! Dahiku mengernyit menunjukan ekspresi heran kepada sosok pemuda tegap yang berada dibelakangku, aku menunduk tak berani menatapnya.

“ya kak, ada apa ya?” ucapku dengan posisi yang sama. Menunduk

“kok kamu belum pulang? Gak dijemput ya?” Tanya pemuda  itu, kakak kelasku.

“iya kak, ponselku lowbatt jadi nggak bisa hubungin orang rumah buat jemput”

“mau bareng nggak?” tawarannya itu membuat aku bingung. Ohh GREAT!! Aku diam tak menjawab apapun. Jujur dari hati yang paling dalam aku tak pernah sanggup menolak ajakannya untuk pulang bersama, karena ia adalah orang yang diam-diam aku sukai. Tapi aku juga tak boleh menerima tawaran itu, karena dia pasti membawa cagiva merahnya dan itu adalah motor sacral bagi remaja sepertiku.

“tenang aja fy, aku bawa mobil kok.” Sambungnya lagi seolah dia bisa membaca kegundahan hatiku.

“iya deh kak. Tapi nggak ngerepotin kan kak?” hanya gelengan kepala yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian, melangkahlah kaki ini bersamanya. Aku berada di belakang punggungnya, dengan tangan yang tak berhenti meremas kuat menghindari rasa gugup yang terus adaseolah menenggelamkanku.

“ini fy rumahmu?”

“iya kak, mau mampir dulu nggak kak?” tanyaku hanya sekedar untuk basa – basi.

“nggak deh, aku ada janji. Takut kesorean, salam aja buat keluarga ya” aku mengangguk dan keluar dari mobil miliknya. Huftt… untung saja ia menolak, kalo tidak aku tak tau akan berbuat apa didalam rumah nanti. Belum lagi introgsi kepo dari mama dan kakak perempuanku yang pasti bikin ribet.

“duluan ya fy!” pamitnya sekali lagi.

“iya. Makasi ya kak rio” dan enyahlah mobil itu dari pandanganku. Aku menghembuskan nafas kasar dan melangkah menuju pintu rumahku. Badan ini sungguh mengenaskan, bau yang euhh banget, lengket dimana mana dan pegal pegal disendi mulai terasa. Aku akan mandi dan tidur siang.

#flashback off

Sejak kejadian itu kami berdua mulai akrab. Kami sering belajar bersama, kak rio sering memintaku untuk mengulang pelajaran kelas 10 yang ia lupa, pergi ke kantin bareng dan pulang bareng juga sering kami lakukan, kak rio juga terkadang membelikanku jika ada aksesoris Eiffel yang lucu, ternyata dia mengetahui kalo aku begitu maniac dengan Negara fashion itu. Bahkan ia pernah mengatakan ia akan menemaniku memandang Eiffel disampingnya, bersama-sama dan itu artinya kita berdua? Ughh he is sweet man.

SKIP

Aku berdiri sendiri di gerbang sekolah, menunggu jemputan. Aku tak menyangka hubungan kami berjalan Selama ini, 2 tahun sudah kami dekat. Aku dan kak rio, aku sekarang sudah kelas 3 SMA, kak rio sudah lulus 2 tahun lalu dan saat ini kuliah jurusan Management di UI.

Setelah beberapa menit aku menunggu, mobil Terios hitam pekat itu terlihat mendekat. Aku tau jelas itu adalah mobil kak rio. Mobil yang selalu mengantar dan menjemputku jika kak rio sedang mempunyai waktu luang, seperti saat ini.

“gimana ujiannya fy?” Tanya kak rio setelah aku memposisikan duduk di samping kemudi.

“Alhamdulillah kak, lancar. Kakak gimana kuliahnya?” tanyaku balik

“alhamdulillah juga. Oh iya, rencana kedepan gimana fy? Mau ngambil dimana?”

“rencananya sih tergantung sama ayah kak, aku belum ngomong sama ayah”

“ya dibicarain dong fy. Kan itu bentar lagi. Tapi by the way, kamu maunya kuliah dimana?” kak rio membelokkan mobilnya.

“kalo aku sih maunya ambil jurusan seni di Paris kak. Aku juga udah ajukan beasiswa minggu kemarin. Minta bantu doanya ya kak, semoga diterima.” Kak rio mengangguk dan mengacak – acak rambutku pelan.

“fy!” kak rio memanggilku tepat saat aku akan membuka pintu keluar mobil.

“ya, ada apa?” aku menolehkan wajahku ke hadapannya. Mata kita bertemu dan kak rio langsung menolehkan wajahnya ke depan.

“kalau misalnya kita menjalin hubungan yang lebih serius setelah kamu lulus gimana fy?” kak rio agak ragu mengatakan itu, aku dapat melihat kegugupan dalam suaranya. Aku terdiam tak menjawab apapun, aku ragu aku harus menjawab apa karena aku terlalu kaget dengan pertanyaan semacam itu.

“aku gak tahu kak. Makasih sudah mengantar ify pulang. Assalamualaikum” aku keluar dari mobilnya, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan segera pergi.

***

Hari berlalu, ujian Nasionalpun sudah aku lakukan dan aku mendapat hasil yang memuaskan, nilai ujianku tidak ada dibawah 85. Aku bersyukur atas semua itu. Sekarang aku dan sivia sedang duduk di koridor sekolah, kami memang sudah keluar dari sekolah ini tapi kepentingan cap 3 jari untuk ijazah SMA mengharuskan kami untuk datang ke sekolah ini lagi.

“maaf kak, kakak ini kak ify kan?” aku menatap adik kelasku itu dan dengan pasti aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“kakak dipanggil pak Billah sekarang kak. Permisi” dan kemudian anak itu pergi. Aku menatapnya dengan mengangkat sebelah alis bingung. Namun aku tak menghiraukannya, aku langsung beranjak ke ruang kepsek.

***

To kak rio: kak, sibuk nggak?

Aku menimang – nimang ponselku, pesan yang tadi aku kirim. Tidak ketara bahwa aku modus ingin bertemu dan jalan – jalan dengannya kan? Duh kalau itu benar yang tertangkap, Betapa malunya wajah ini-_-

Aku akan memberitahukan surat ini kepada kak rio, surat yang tadi aku terima dari Pak Billah kepala sekolah yang memanggilku siang tadi. Kalian tau apa? Aku diterima! Beasiswa yang aku ajukan di Paris berhasil. Aku akan memberitahukan berita kebahagiaan ini kepadanya, aku harap dia bangga kepadaku.

From kak rio: nggak, fy jalan yuk! I’ve smthng 2 tell you. I’ll arrive @yourhome 5 minutes.

YHAA!!! Yihaa!! Tanpa harus aku yg terlalu memodus kak rio paham juga, huft untung saja kak rio tipe cowok yang peka jadi aku tidak perlu terlalu memoduskan diri. Agar tak memakan waktu lama, aku berganti baju dengan cepat dan tak lupa membalas pesan kak rio sebelumnya.

To kak Rio: I’m waiting

Aku berjalan pelan dan duduk di salah satu kursi restoran ini. aku memandang kak rio yang berada didepanku, aku tak menyangka dia melakukan hal yang sama. Dan GOSH blushing pipi ini aku rasa mulai ada.
“fy?”

“kak” aku melihat ke arahnya, aku memberi kode agar kak rio yang mengatakan terlebih dahulu dan ia mengangguk mengerti.

“aku mau kita serius fy, maksudku aku mau kita tunangan” dia memberikan kotak merah beludru yang baru diambil dari saku celananya.

“kak, aku masih kecil kak. Aku baru saja lulus SMA. Aku rasa ini terlalu cepat kak” aku mengambil sebuah surat yang memang ingin aku tunjukkan padanya. Surat penerimaan Beasiswaku di Paris.

 “aku udah bilang ke ayah mamamu fy, mereka terserah kamu. Aku akan menikahimu nanti setelah kamu lulus dan aku telah bekerja serta layak menjadi suami. Saat ini, aku hanya ingin mengikatmu fy, agar kamu tetap disisiku. Kamu mau kan fy?”

“aku mau ngasih ini kak” aku berbicara duluan menyambung perkataanku yang sebelumnya. Kak rio terlihat ragu, tapi akhirnya mengambil surat itu dan membacanya.

“kamu diterima? Kapan kamu berangkat?”

“untuk pertanyaan kak rio yang tadi aku minta maaf. Bukannya aku mau nolak kakak, tapi aku rasa kita masih kecil kak. Besok aku berangkat, kalau kak rio bersedia menungguku selama aku di Paris aku harap kak rio ikut mengantarku tapi, kalau tidak gapapa kak. Penerbangannya pukul 9.15 kak, aku duluan ya kak rio. Terimakasih” aku pergi dari hadapannya, aku berharap kak rio akan datang untuk mengantarku esok.

***

Sampai saat ini aku masih menunggu, walau rasanya mustahil ia datang tapi aku tak peduli. Aku mencoba menelfon ponselnya namun sama, hasilnya nihil dan itu berarti kak Rio Menyerah! Dia tak mau menunggu, dan tak akan menungguku lulus kuliah.

Aku merasakan perih diseluruh bagian hati ini, aku kecewa dan marah. Aku kecewa pada kak Rio karena dia tak mau datang mengantarkan kepergianku, Aku marah pada kak Rio karena ia dengan mudahnya menyerah tanpa mempertahankanku.

Bukan maksud hati ini menolak lamarannya kemarin, tapi aku rasa aku belum sanggup. Aku mengerti maksudnya yang hanya ingin mengikatku tapi coba pikir, aku hanyalah anak bawang yang baru melepas pakaian abu – abu dan akan mengikuti ospek anak kuliah! Tahu apa aku masalah tunangan? Semoga saja kak Rio mengerti dan memaafkanku.

Aku mendengar informasi pesawat yang aku tumpangn sebentar lagi lepas landas. Aku mengirim pesan terakhir pada ponselnya, aku tak peduli apakah ia membacanya atau tidak. Terimakasih kak Rio. Aku Pergi.

Kak, aku minta maaf sebelumnya. Bukan maksudku ingin menolak kakak, aku ingin kita belajar mencari kedewasaan terlebih dahulu. Aku tahu maksud kakak hanya ingin mengikatku, tapi pertunangan itu bukan hanya sebatas ikatan 2 manusia yang akan menikah. Aku juga belum tahu makna pertunangan seperti apa, oleh karena itu aku tak berani melakukannya.
Kak, aku hanya ingin kakak tahu bahwa aku menyayangi kakak. Kakak adalah laki – laki pertama yang aku kagumi dulu dan aku sayangi sekarang. Terimakasih kakak telah menemaniku selalu dalam 2 tahun kemarin. Ketidakhadiran kakak tadi sudah menjawab semuanya, kakak tak mau menunggu kepulanganku dan itu berarti kak rio melepasku. Terimakasih kak, aku pamit pergi.

And always loving you
Ify Alyssa Jellery


---

Aku menutup jendela apartemenku, melangkah keluar kamar dan pergi ke Eiffel. Sudah cukup aku mengingatnya, mengingat semua yang ia katakana padaku dulu 3 tahun lalu. Dia yang akan berada disampingku memandang Eiffel, dia yang akan menemaniku pergi ke Negara ini dan dia yang akan berada didepanku untuk mengabadikan fotoku dengan Eiffel.

Dan tibalah aku disini. Di taman yang ramai meski malam sudah larut, pukul setengah sebelas malam. Aku duduk dikursi putih pinggir air mancur kolam taman, mataku memandang keseluruh penjuru taman ini. aku terbelalak kaget melihat seorang pemuda disana! Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Dia berdiri disana membelakangiku dengan seorang wanita, mencium kening wanita itu lama lalu merangkul bahunya dan memandang kearah menara Eiffel berada.

Aku mendekatinya untuk memastikan apakah ia benar orang yang aku kenal. Setelah berada dibelakangnya aku menepuk pundaknya. Kedua orang itu menoleh dan aku semakin dibuat ternganga melihat siapa lelaki itu, aku merasakan mataku memanas, dan akhirnya menangis.

“kak Rio?”

“Ify?”

 END


Yeay!!!selesei juga
ini cerita pertama yang berhasil saya keluarkan dan ending. Maaf kalo nge-flat ataupun gada konflik plus gak nge-feel.
Terimakasihh sekiann dan wassalam.